Tampilkan postingan dengan label tabligh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tabligh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Aku Tak Tahu


Dibalik Ketidak-tahuan
Posting by: Kuspriyanto

TERUS TERANG aku katakan: “Excuse me, aku tak tahu…. Sekali lagi maaf , aku memang tak tahu.” Entah berapa kali , aku mengatakannya begitu. Ada falsafah Jawa yang mengatakan : "Dadi wong kuwi ojo rumongso biso ananging biso rumongso".

Falsafah Jawa tadi mengandung pesan moral, agar kita menjadi manusia yang bisa menyadari (mawas diri) akan keterbatasan kemampuannya sebagai insan. Karena orang yang selalu merasa bisa, cenderung akan bersifat sombong dengan melakukan sesuatu yang sebenarnya ia tidak bisa kerjakan dengan sempurna. Sehingga hasil akhirnya tentu tidak akan memuaskan, bahkan pada sisi yang lain, bisa merugikan banyak pihak.
Sedangkan orang yang “biso rumongso” justru akan mendapatkan nilai lebih karena kejujurannya, dan pada sisi yang lain akan membawa ketenangan hati bagi pelakunya. Konon, dalam sebuah riwayat diceritakan, bahwa Imam Malik dulu pernah diajukan 48 pertanyaan, akan tetapi hanya 25 % pertanyaan diantaranya yang beliau jawab, sisanya beliau katakan :”Aku tidak tahu”. Demikian halnya serupa, terjadi pada Imam Syafi’I , beliau ditanya oleh seseorang hingga berulang-ulang pertanyaan serupa diajukan kepada beliau agar berkenan memberikan jawaban, akhirnya beliau katakan :”Aku sebenarnya sedang berfikir yang mana yang lebih baik kutempuh; diam atau menjawab pertanyaanmu.”

Allah Swt berfirman :

قَالُواْ سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ -٣٢-

Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau Ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Q.S.Al Baqarah:32)

Dalam salah satu tafsir disebutkan : Para malaikat berkata, “Maha Suci Engkau, kami tidak memiliki pengetahuan selain apa-apa yang telah Engkau Ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Qālū subhānaka (para malaikat berkata, “Maha Suci Engkau), kami bertobat kepada-Mu dari hal itu. Lā ‘ilma lanā illā mā ‘allamtanā (kami tidak memiliki pengetahuan selain apa-apa yang telah Engkau Ajarkan kepada kami), yakni yang telah Engkau Ilhamkan kepada kami. Innaka aηtal ‘alīmu (sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui) terhadap kami dan mereka. Al-hakīm (lagi Maha Bijaksana”) terhadap urusan kami dan mereka.

Kemudian, bagaimana karena sudah terlanjur aku mengatakan “sok tahu padahal tidak tahu” , kan isin tho?” , Maka sekali lagi aku hanya bisa mengatakan: “Maaf, memang, aku tak tahu, maaf…”.

Wallahu a’lam bishawab

Sabtu, 10 Maret 2012

Ungkapan Hati


Dari Orang Bodoh Yang Tak Kunjung Pintar
Posting by: Kuspriyanto

BETAPA terbatasnya pengetahuanku ini , sementara dihadapanku terbentang pengetahuan yang sangat luas , seperti setetes air yang ditumpahkan di lautan. Secuil pengetahuan tentang diri sendiri pun tak aku pahami, apalagi terhadap orang lain bahkan terhadap semua permasalahan hidup ini. Barangkali ini merupakan bagian dari sekian tantangan zaman yang umumnya dihadapi pada saat ini. Seperti yang disampaikan Prof Dr. Muhammad Quraish Shihab, dalam salah satu buku beliau “Menabur Pesan Ilahi (2006) “ diuraikan tentang keterbatasan pengetahuan yang bukan saja berarti ketiadaan ilmu, tetapi juga ketidakmampuan dalam memilah, mengamalkan, dan menyosialisasikannya. Bisa jadi, kita telah memiliki dari yang secuil tadi, tetapi iradah, kemauan, dan tekad kita yang tidak cukup.

Maka bagaimana mungkin dengan ketidakmampuan diri ini bisa mencari kesalahan orang lain. Konon , sekarang ini ada sebagian dari masyarakat kita yang dijangkiti penyakit “serba tahu” sehingga sering menjustifikasi dan menyalahkan orang lain.
Kadang kita tidak mengetahui apa yang kita kehendaki. Kita tidak bisa membedakan mana yang utama dan mana yang tidak , mana yang penting dan mana yang tidak penting, mana keinginan dan mana keperluan. Bahkan kita tidak bisa membedakan mana kawan yang sebenarnya dan mana pula lawan karena ‘iming-iming’ keuntungan material yang diperoleh.
Aku teringat dalam salah satu Hadist Nabi Saw bersabda :”Hati-hatilah kamu, jangan duduk berdekatan dengan orang pandai, kecuali yang mengajakmu “dari 5 ke 5” yaitu:
Pertama, dari keraguan kau diajak menuju ke “keyakinan”.
Kedua, dari kesombongan kau diajak menuju “tawadlu”.
Ketiga, dari permusuhan kau diajak menuju perdamaian.
Keempat, dari riya’ kau diajak menuju ke “ikhlasan”.
Kelima, dari rakus harta kau diajak menuju zuhud.

Maka , masih melekat dibenakku pesan Pak Kyai mengutip nasihat Abu Darda’ : Kun ‘aliman au muta’aliman au mustamian wala takun arrobi’a fatahallaka ya’ni miman laa ya’lamu walaa yastami’u

“Jadilah kamu pendidik, atau anak didik, atau pendengar (yang baik), jangan mendaftarkan orang yang ke empat (yakni) bukan pendidik, bukan anak didik atau bukan pendengar yang baik, jika demikian halnya, pasti kamu binasa."

Mudah-mudahan Allah Swt. menolongku agar dapat selalu menimba ilmu, dan menjauhkan diri dari golongan orang yang ke-empat.

Wallahu 'alam bi shawab.

Jumat, 17 Februari 2012

Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw


Momentum Meneladani Kehidupan Rasulullah Saw
Posting by : Akhmad Kuspriyanto

BEGITULAH rasa kerinduan itu tiba-tiba bergelayut dalam sanubari , ketika memasuki bulan Rabiul Awal , saat dimana masyarakat muslim sedang memperingati hari kelahiran nabi junjungannya , Nabi Besar Muhammad Saw. (bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrika bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin Adnan)

Kerinduan sekaligus rasa kecintaan kepada Rasulullah Saw yang diungkapkan dengan berbagai acara peringatan ; pengajian, membaca shalawat dan sebagainya, tentunya masih belum sempurna apabila belum diimplementasikan dengan peningkatan ibadah pada umumnya.

Adalah benar-benar sebuah kerinduan tiada terperi yang menjadi dambaan segenap umat muslim pada umumnya, seperti yang dilantunkan dalam sebauah syair lagunya Bimbo yang berjudul 'Rindu Kami Padamu'.

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya rasul
serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara besahaja

Perjalanan waktu kini telah terlampaui kurang-lebih 14 abad yang lalu Beliau meninggalkan umatnya, tetapi ajaran beliau selalu hidup dan akan selalu menghidupkan hati orang-orang beriman. Demikian pula keteladanan beliau senantiasa menjadi dambaan setiap insan yang beriman , lebih-lebih di era global seperti sekarang ini. Rosulullah Saw bukan hanya berhasil melakukan perubahan yang sangat mendasar bagi bangsa Arab saja, melainkan juga pada seluruh umat manusia bahkan menjadi rahmat bagi alam semesta pada umumnya.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ -١٠٧
-

"Tidaklah Kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali untuk menjadi rahmat sekalian alam" (Al-Anbiyah: 107)

Rosulullah Saw menjadi rahmat buat kaum muslimin yang menjadikan beliau sebagai panutan dan contoh sejati dalam merealisasikan ketaatan kepada Allah, dalam bersosialisasi sehari-hari, menjadi ayah yang baik, menjadi suami yang bijak, bahkan menjadi seorang pemimpin ‘kaliber dunia’ yang sukses. Dalam karya dan penelitiannya Michael Hart pun mengakui dan menempatkan beliau dalam urutan pertama dari “Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia.”


Sejak masih kanak-kanak , beliau sangat cerdas dan suci serta dihormati karena kejujuran, keberanian, keadilan, keshalihan, kesabaran, rendah hati, kesetiaan dan keramahannya. Abu Thalib menggambarkan keponakannya yang dicintainya tersebut:”Dia adil dan berwajah tampan. Dari raut wajahnya, rahmat turun layaknya hujan. Dia adalah tempat berlindung bagi anak-anak Yatim dan pelindung para Janda.”

Beliau memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya, membantu meringankan beban orang lain, dan membantu orang-orang miskin agar mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.

Sesuai dengan perannya sebagai utusan Allah yang diembannya, sebelum menjadi Nabi pun beliau memiliki kebencian yang melekat terhadap berhala yang dilakukan pada waktu itu. Karena itulah, meskipun beliau merupakan bagian dari masyarakatnya, beliau tidak pernah mengikuti pesta dan perayaan yang berkaitan pemujaan berhala dan mabuk-mabukan. Beliau juga berhati-hati agar tidak memakan daging yang disembelih atas nama selain Allah, dan tidak menyentuh atau bahkan mendekati berhala.

Sebagian ulama tafsir menyimpulkan bahwa, Nabi Muhammad saw telah meneladani sifat-sifat terpuji para nabi sebelumnya. Nabi Muhammad Saw, adalah yang terbaik. Rasulullah Saw sangat besar perhatiannya pada umat manusia , sehingga hampir-hampir saja ia mencelakan diri demi mengajak mereka beriman. Begitu luas rahmat dan kasih sayang yang dibawanya, sehingga menyentuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan , dan makhuk-makhluk tak bernyawa. Rasulullah Saw pernah bersabda:” Seorang wanita terjerumus ke dalam neraka karena seekor kucing yang dikurungnya”. (HR Bukhari dan Muslim)


Bukan hanya binatang saja, rahmat dan kasih sayang beliau curahkan sampai pada benda-benda tak bernyawa. Sisir, gelas, cermin, tikar, perisai, pedang, dan sebagainya, semua beliau berikan nama, seolah-olah benda-benda tak bernyawa itu mempunyai kepribadian yang membutuhkan uluran tangan, rahmat dan kasih sayang.
Sebelum Eropa memperkenalkan Organisasi Pecinta Binatang, Nabi Muhammad Saw telah mengajarkan untuk mencintai dan memperlakukan binatang dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu, sebagai wujud kecintaan kita kepada junjungan kita Rosulullah saw, ada beberapa hal yang barangkali bisa menjadi bahan koreksi diri agar ibadah kita lebih meningkat, yang antara lain:

Pertama: Ikhlas dan taat mengikuti tuntunan Allah Swt dan Rosulullah Saw dalam beribadah.

Dalam suatu riwayat dikisahkan, ketika Umar bin Khattab mendengar berita wafatnya Rasulullah saw, ia tidak bisa menerima kehilangan Rasul dan dengan penuh kesedihan sambil menghunus pedangnya ia mengatakan,”Barangsiapa yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati akan aku tebas lehernya.” Abu bakar tahu perasaan Umar yang belum bisa menerima kehilangan Rasul. Abu bakar sendiri sedang bergelut dengan kesedihan yang amat mendalam. Kemudian dia pun berseru dengan nyaring. Seruan itu ditujukan kepada semua yang hadir terutama kepada Umar. “Barang siapa menyembah nabi Muhammad, sesungguhnya Rasulullah benar-benar telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah tidak pernah mati dan abadi selama-lamanya.”

Kemudian beliau membacakan sebuah firman Allah dalam Al-Quran:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىَ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللّهَ شَيْئاً وَسَيَجْزِي اللّهُ الشَّاكِرِينَ -١٤٤-

"Dan tidaklah Muhammad itu kecuali seorang Rasul. Sudah berlalu rasul-rasul lain sebelumnya. Karena itu, Apakah jika Muhammad meninggal dunia atau terbunuh, kamu akan murtad dan kembali kepada agama nenek moyang kamu? Sungguh barang siapa murtad kembali kepada agama nenek moyang, tidak sedikit pun menimbulkan kerugian kepada Allah SWT. Dan Allah akan menganjarkan pahala bagi orang-orang yang bersyukur." (Ali Imran:144)


Walau Rosulullah telah tiada, ketaatan kepada Allah harus terus adalah selamanya.
Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt dalam firmannya:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً -١١٠- (QS. Al Kahfi : 110)

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhan-nya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhan-nya.” Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian. Diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh, dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.”


Dalam salah satu tafsir dijelaskan:

Qul (katakanlah), hai Muhammad! Innamā ana basyarum mitslukum (“Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian), yakni keturunan Adam seperti kalian. Yūhā ilayya (diwahyukan kepadaku) melalui Jibril a.s.. Annamā ilāhukum ilāhuw wāhidun (bahwasanya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa), yang tidak memiliki anak dan sekutu. Fa mang kāna yarjū liqā-a rabbihī (barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Rabb-nya), yakni yang takut oleh kebangkitan sesudah mati. Fal ya‘mal ‘amalaη shālihan (maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh), yakni amal yang berhubungan dengan Rabb-nya secara ikhlas. Wa lā yusyrik bi ‘ibādati rabbihī ahadā (dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya), yakni tidak ingin dilihat oleh orang lain dan tidak mencampuradukkan ibadah kepada Rabb-nya dengan menyembah sesuatu yang lain. Menurut pendapat yang lain, tidak mencampuradukkan ketaatan kepada Rabb-nya dengan ketaatan kepada sesuatu yang lain. Turunnya ayat ini berhubungan dengan Jundab bin Zuhair al-‘Amiri.

Sebagian Ulama Hikmah menegaskan bahwa : “Barangsiapa melakukan tujuh amalan , tanpa dibarengi tujuh perkara , berarti hampa/palsu amalannya, yaitu :

1.Takut kepada Allah , tetapi tidak mau mengurangi laku maksiat
2.
Mengharap pahala dari Allah tetapi enggan beramal /beribadah kepada-Nya

3.Ber-azam
akan melakukan kebaikan/berbakti kepada Allah, tetapi tidak dilakukan dalam kenyataan
4.
Berdo’a kepada Allah tetapi tidak berusaha secara lahiriah
5. Mohon ampun kepada Allah, tetapi tidak menyesali dosa yang dilakukan
6. Lahirnya berbuat kebaikan, tetapi dalam hatinya tidak ikhlas
7.
Sungguh-sungguh dalam beramal atau beribadah, tetapi tidak ikhlas mengharap keridhaan dari Allah.

Kedua: Meneladani Kehidupan Rosulullah saw
Banyak sisi dari kisah kehidupan Rosulullah yang mesti diteladani oleh umat islam, apalagi pada saat sekarang ini, bangsa kita sangat membutuhkan pemimpin yang dapat membimbing bangsa yang bukan hanya selamat dari krisis global, tapi yang lebih penting dari pada itu seorang pemimpin yang juga dapat membimbing bangsa hingga mereka selamat di akhirat.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً -٢١-

"Sungguh terdapat dalam diri Rosulullah suri tauladan yang baik" (Al-Ahzab: 21)
Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (QS Ahzab 21)
Laqad jā-akum (sungguh telah datang kepada kalian), wahai penduduk Mekah. Rasūlum min aηfusikum (seorang rasul dari kalangan kalian sendiri), yakni seorang Arab keturunan Bani Hasyim seperti halnya kalian. ‘Azīzun ‘alaihi (berat terasa olehnya), yakni sulit terasa olehnya. Mā ‘anittum (kesalahan yang diperbuat oleh kalian), yakni dosa yang telah kalian perbuat. Harīshūn ‘alaikum (sangat berharap kepada kalian), yakni sangat berharap kalian beriman. Bil mu’minīna ra-ūfur rahīm (serta berbelas kasihan lagi penyayang kepada kaum Mukminin), yakni kepada seluruh kaum Mukminin.
Dari sudut pandang keteladan beliau, menurut pakar muslim kontemporer disebutkan bahwa manusia dapat diklasifikasikan kedalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerja, dan yang tekun beribadah. Dalam sejarah hidup beliau membuktikan bahwa beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam type manusia tersebut.
Perjalanan hidup beliau dipenuhi dengan peristiwa –peristiwa yang sarat dengan hikmah. Kehebatan beliau dalam berdakwah, memang sudah begitu kondang, bukan hanya di kalangan umat Muslim. Lewat halusnya tutur kata, lembutnya pandangan, manis gerak-gerik hingga kearifan cara berfikirnya, tak terhitung banyaknya orang yang masuk islam, tak sedikit pula dari lawan-lawannya yang akhirnya berubah menjadi kawan, bahkan menjadi pengikut setia.
Beliau adalah orang yang lembut, murah hati , mampu menguasai diri, suka memaafkan saat memegang kekuasaan dan sabar saat didholimi. Beliau adalah orang yang paling tidak mudah marah dan paling cepat ridho.
Diantara sifat kemurahan hati dan kedermawanan beliiau yang sulit digambarkan, bahwa beliau memberikan apa pun dan tidak takut menjadi miskin.
Masih terlalu banyak lagi kemulian akhlaq beliau yang tidak bisa diuraikan satu per satu. Sehingga hampir-hampir, keteladanan beliau tak terulang kembali dalam sejarah seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Bisa memberikan ampunan dan kasih sayang kepada musuh sekali waktu, sementara di waktu yang lain dengan penuh ketegasan menghukum dan mengusir musuh. Ia tahu kapan harus memaafkan dan kapan pula harus marah dan bertindak.

Anas bin Malik dalam suatu riwayat menceritakan, ketika Rosulullah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan tersenyum : "Ketika aku di depan pintu rumah Aisyah, aku mendengar Aisyah sedang menangis dengan kesedihan yang mendalam sambil mengatakan, "Wahai orang yang tidak pernah memakai sutera, wahai orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum, wahai orang yang telah memilih tikar daripada singgasana, wahai orang yang jarang tidur di waktu malam karena takut Neraka Sa'ir."


Dari ungkapan Aisyah istri Rosulullah tersebut, menyadarkan kita bahwa memang demikianlah keseharian kehidupan Rosulullah tatkala beliau masih hidup. Padahal beliau adalah orang yang telah dijamin Allah untuk masuk surga. Kemudian bagaimana halnya dengan kita?


Ketiga: Berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunah

Umat saat ini sangat dituntut untuk benar-benar kembali kepada Al-Quran dan Sunah sebagaimana pesan Rosulullah ketika akan wafat, itulah yang akan membimbing mereka menuju keselamatan di dunia dan akherat.
"Ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa." (Al-An'am : 153)

Keempat: Mencintai Rasulullah


Mencintai Rosulullah adalah kewajiban , membela kehormatan Rosulullah Saw merupakan keharusan , karena merupakan indikator keimanan. Demikian pula masih banyak tanda-tanda yang lain sebagaimana disebutkan dalam jamii’ish shoghiir (dari dhuraratun nashihin), Siti Aisyah Ra, berkata:
Man ahabballaha ta’alaa aktsaro dikruhu tsamrotuhu anyadzkurohullahu birohmatihi waghufroonihi wayud-khiluhul jannata ma’a ambiyaa-ihi wa ‘auliyaa-ihi wa yukrimahu biru’yati jamaalihi wa man ahabbannabiyya alaihish sholaatu wassalaamu aktsaro minashsholaati ‘alaihi. Wa tsamrotuhul wushuulu ilaa syafaatihi wa shuhbatihi fil jannah. …
Barang siapa cinta kepada Allah Ta’ala, maka dia banyak menyebut-nyebutNya, dan buahnya Allah akan mengingat dia juga dengan memberikan rahmat dan ampunan kepadanya serta memasukkannya ke Surga bersama sama dengan para Nabi dan para Wali bahkan member kehormatan pula kepadanya dengan bisa melihat keindahan-Nya; dan barangsiapa cinta kepada Nabi Asw, maka dia banyak membaca shalawat Nabi Asw, dan buahnya ialah dia sampai bisa mendapatkan syafaatnya dan bersama didalam sorga”
Dari Anas R.a. dari Nabi Asw: Man ahabba sunnati faqod ahabbani wa man ahabbani kaana ma’ii fil jannah. (Al Hadist)
(Barangsiapa cinta kepada sunnatku maka sungguh dia cinta kepadaku, dan barangsiapa cinta kepadaku maka dia bersamaku di dalam surga)"

Kecintaan orang beriman kepada Rasulnya tidak pernah putus sekalipun oleh kematian karena kecintaan atas dasar iman itu tetap lestari dan abadi.

Ada beberapa hal yang dapat kita kerjakan , sebagai bagian bukti mahabbah kita kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Saw yang antara lain :
1. Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw.
QS. Adz dzaariyat : 23
2. Mengerjakan perintah dan menjauhi yang beliau larang dengan tanpa ragu (QS Al Ahzaab 36 dan Al A’raaf 158)
3. Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapapun
4. Ittiba’ (mencontoh) Nabi Saw serta berpegang pada petunjuknya
5. Membela ajaran sunnah Nabi
6. Menyebarkan ajaran nabi


Demikianlah, sebenarnya masih banyak yang harus dikoreksi dalam diri kita, untuk meneladani dan mencintai junjungan kita yang mulia Nabi Muhammad Saw.

Sumber : Tanbihul Ghafilin (Al Faqih Abu Laits Samarqandi), Cahaya Di atas Cahaya ( Safiur Rahman Mubarakpuri), Wawasan Al Qur’an (DR. Qurays Sihab) , dll.

Wallahu a'lam bi shawab.

Selasa, 07 Februari 2012

Mereformasi Diri









Perubahan Membutuhkan Lingkungan Yang Kondusif
Oleh: Akhmad Kuspriyanto

PERUBAHAN atau ada yang menyebutnya dengan istilah kerennya ’reformasi’, diartikan sebagai suatu perubahan terhadap suatu system yang ada pada suatu masa. Maka me-reformasi diri maksudnya melakukan perubahan system nilai pribadi kita , harapannya tentu menjadi pribadi yang lebih baik/ sholeh.
Kata seorang Sesepuh yang mengaku pernah menjadi pejuang:

Ketika aku masih kecil dulu, aku mempunyai cita-cita ingin mengubah dunia ini, dan ternyata.. setelah aku pikir-pikir sejalan dengan perjalanan waktu, ternyata cita-citaku itu sulit kuwujudkan, maka kupersempit cita-citaku tadi ,kemudian aku bercita-cita ingin mengubah negeriku , dan ternyata sejalan dengan perjalanan waktu, setelah aku pikir-pikir lagi cita-citaku itupun masih sulit kuwujudkan, sehingga cita-citaku lebih kusederhanakan , aku hanya ingin mengubah kampung tempat tinggalku, ternyata… itupun juga sulit kuwujudkan.

Kemudian saat usiaku sudah senja dan aku hanya bisa berbaring ditempat tidurku, aku masih ingin berbuat sesuatu minimal untuk mengubah keluargaku. Celakanya…, ternyata akupun tidak bisa : di dalam keluargaku sendiri : istriku, anak-anakku pun tidak bersedia mengikuti aku. Aku ternyata tidak bisa menjadi Imam untuk keluargaku sendiri.
Sekarang sudah tidak ada yang kumiliki lagi, tapi aku masih bersyukur, karena aku masih memiliki semangat untuk berubah di sisa-sisa umurku, minimal ingin mengubah diriku sendiri, menjadi lebih baik. Mudah-mudahan berawal dari perubahan diri sendiri ini, mungkin aku bisa mengubah keluargaku, kampungku, negeriku bahkan dunia.” Katanya bersemangat.

Begitulah perubahan itu selalu hadir menyertai perjalan sang waktu. Ada kalanya perubahan itu membawa perbaikan, tapi pada sisi yang lain banyak pula ditemukan perubahan justru menuju ke arah kemunduran.


Oleh karena itu, agar perubahan itu menuju ke hal positip , ada beberapa faktor yang perlu dicermati :


1. Lingkungan/ pergaulan dengan budaya lain. Lingkungan atau pergaulan yang terjadi dapat mendorong inovasi / perubahan baru .
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang hidup berkelompok, la pasti membutuhkan lingkungan dan pergaulan.Sehingga teman bergaul merupakan hal penting dalam memenuhi kebutuhan hidup bersosialisasi. Manusia tidak bisa hidup seperti ikan di laut, meski hidup di air tempat tinggalnya yang penuh dengan kandungan garam, tetapi ikan tersebut tidak ikut asin
Mungkin kita pernah menjumpai….teman kita yang tadinya berakhlaq manis dan penyantun. Dari keluarga agamis yang taat, ternyata pada suatu waktu ia ditemukan oleh Petugas sedang nyabu, atau ngoplo. Bukan berhenti disitu saja , bahkan terlibat serentetan perkara kriminal . Padahal dahulu kita kenal sebagai orang yang yang baik akhlaqnya. Selidik punya selidik, ternyata selama ini tanpa diketahui oleh keluarganya , ia terjerumus dalam lingkungan yang salah, sehingga karena begitu kuatnya pengaruh dari teman-temannya yang ‘tidak benar’ tadi membawa ia ke lubang kemaksiatan. Demikian pula bisa terjadi sebaliknya, ada pula mereka yang mendapatkan hidayah, yang semula buruk akhlaqnya kemudian berubah drastis menjadi orang yang sholeh, karena lantaran pengaruh lingkungan yang baik.
Namun demikian, suatu hal yang sering menjadi hambatan perubahan adalah pada umumnya kita cenderung senang bergaul dengan teman pergaulan yang sepadan, yang memiliki cara pandang dan kebiasaan yang tidak jauh berbeda.
Nabi Saw bersabda:”Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap.” (HR.Bukhari dan Muslim)

2.Sistem pendidikan yang maju; Sistem pendidikan yang ada sangat berpengaruh terhadap semangat perubahan. Dengan pendidikan yang maju akan memberikan ruang terhadap pemikiran baru dan nilai-nilai tertentu yang memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan/nilai-nilai yang ada masih dapat memenuhi perkembangan zaman atau tidak. Sekarang banyak pilihan orang untuk menempuh pendidikan formal. Dari yang bertaraf lokal sampai International. Maka sering dalam memilih pendidikan ini berdasarkan prestasi akademiknya , akan tetapi kurang mempertimbangkan pembinaan akhlaqnya, sehingga banyak dijumpai mereka kaya ilmu tapi miskin hatinya; cerdas IQ-nya tapi kurang social dan spiritualnya. Maka pendidikan yang tepat akan sangat mewarnai kearah perubahan yang positif.

3, Orientasi terhadap masa depan:
Pemikiran yang berorientasi pada masa lalu dan saat ini , sering tidak memberikan banyak warna perubahan sesuai zamannya. Maka diperlukan penyempurnaan dengan pemikiran yang berorientasi ke masa depan sehingga akan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.

4. Nilai ikhtiar
Ikhtiar / menyempurnakan usaha dan berdo’a harus selalu kita lakukan dalam upaya melakukan perubahan menuju hal yang lebih baik , lebih bermanfaat di dunia dan akhirat. Maka kesungguhan dalam berikhtiar akan sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan kita capai.
Wallahu a'lam bi shawab

Minggu, 08 Januari 2012

Sayang..., Waktuku Berlalu





Tahun Baru, Orang Yang Tidak Merugi
Posting by : Kuspriyanto

Allah Swt berfirman :

وَالْعَصْرِ -١-
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ -٢-
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ -٣
-

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
Dua nikmat yang sering dan disia-siakan oleh banyak orang :Kesehatan dan kesempatan (Diriwayatkan bukhari melalui Ibn Abbas ra)

BULAN demi bulan telah berlalu dan tanpa terasa kita telah berada di awal tahun 2012. Hiruk pikuk suara terompet dan bunyi-bunyian lainnya mewarnai pergantian tahun. Hal ini berarti pada detik itu, mengawali berkurangnya ‘kontrak’ waktu hidup kita di dunia dan mengingatkan semakin dekatnya ajal kita.

Maka perlu menjadi bahan renungan kita, apabila kita bermaksud akan menyelenggarakan acara bersenang-senang dengan berfoya-foya dalam menyambut tahun baru.

Secara umum, sebenarnya manusia diingatkan bahwa posisinya akan merugi lahir atau bathin, dunia atau akhirat secara relatif kecuali :

Pertama, yaitu beriman kepada Allah. Dan keimanan ini tidak akan terwujud tanpa ilmu, karena keimanan merupakan cabang dari ilmu dan keimanan tersebut tidak akan sempurna jika tanpa ilmu. Seorang muslim wajib (fardhu ‘ain) untuk mempelajari setiap ilmu yang dibutuhkan oleh seorang mukallaf dalam berbagai permasalahan agamanya, seperti prinsip keimanan dan syari’at-syari’at Islam, ilmu tentang hal-hal yang wajib dia jauhi berupa hal-hal yang diharamkan, apa yang dia butuhkan dalam mu’amalah, dan lain sebagainya.

Kedua , mengamalkan ilmu. seorang hendaklah berniat bersungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya, seseorang agar berupaya maksimal mengubah ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya.

Menurut Dr Qurays Shihab amal manusia yang beragam tadi berasal dari 4 daya yang dimiliki : Daya tubuh (kemampuan teknis), daya akal (kemampuan untuk mengeembangkan iptek), daya qalbu (beriman, estetika, spiritual), daya hidup (mampu beradaptasi)

Ketiga, berdakwah / saling memberi wasiat. Saling member wasiat /berdakwah, mengajak manusia kepada Allah ta’ala, adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang- orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

Tentunya kita punya kewajiban bukan hanya mengembangkan sifat insaniyah kita, tetapi juga kewajiban untuk mengembangkan masyarakat yang memiliki sifat kemanusiaan, yaitu saling memberi wasiat, bukan hanya subyek, tetapi sekaligus objek. Kita bukan saja yang menerima wasiat, tetap juga yang diberi wasiat yaitu Al-Haq dan Ash-Shabr. Suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan . Jadi orang tidak dikatakan beriman kalau tidak beramal saleh dan tidak dikatakan membela kebenaran kalau tidak tabah dalam membela kebenaran itu.

Memang seluruh waktu sebenarnya sama jumlahnya 24 jam. Lalu apa yang menyebabkan satu waktu mempunyai nilai lebih tinggi dari waktu yang lain? Hal itu karena adanya peristiwa yang berkaitan dengan waktu itu. Bahkan kita berlama –lama kembali ke tempat dan waktu tertentu hanya sekedar mengenang kembali peristiwa masa lalu, karena tempat atau waktu itu punya makna yang tersendiri buat kita. Atau sebaliknya, orang akan menyesal ‘seumur-umur’ ketika tiba-tiba mengingat waktu kejadian tempo dulu. Kemudian ia pun berguman dalam hati :

Sang Waktu, mengapa kau kubiarkan berlalu

Tanpa sebuah arti

Tanpa kesan apapun

Ketika kutersadar … kau telah meninggalkan aku jauh

Kini hanya tertinggal sebuah penyesalan

Sebuah kerugian yang kuperbuat sendiri

Sang Waktu

Aku masih berharap dapat bersamamu

Meniti sisa-sisa kehidupan ini

Meraih asa , merajut harapan masa depan.


Wallahu a'lam bi shawab


Selasa, 13 Desember 2011

Kemana Menemukan Cinta Bagian Ke-22



Tanda-Tanda Cinta Ke Tujuh
Posting by : Mas Kus

CINTA memang serba indah, apa yang dilihat ataupun didengar semua akan menyenangkan hati. Sebagaimana Ibnu Hazm Al-Andalusi menguraikan tanda-tanda cinta yang cukup mencolok adalah sang pecinta selalu ingin mendengar nama orang yang dicintai. Senang membicarakannya , menjadikannya bak mentari pagi yang akan menerangi dunia. Seakan tidak ada tempat lain senyaman di sisinya, sehingga tidak perlu segan dan takut lagi untuk mendatanginya. Jadi begitulah adanya, kecintaannya pada sesuatu akan membuatnya buta dan tuli.

Bagi orang yang sedang mabuk cinta , apabila mendengar kekasihnya dicerca orang ketika ia sedang makan, boleh jadi nasi yang ditelan itu akan tersendat di tenggorokan. Apabila nama sang kekasih dibuat bahan pergunjingan saat ia minum, maka air yang diminumnya serasa penuh duri di tenggorokan. Dan apabila nama sang kekasih tiba-tiba mewarnai pembicaraannya dengan orang yang baru saja dikenal, maka bermacam pertanyaan akan berseliweran di benaknya. Sebab, layar batin dan pikirannya secara ‘otomatis’ terhubung dengan bayangan-bayangan orang yang dipujanya selama ini. Wajah yang semula murung, tiba-tiba berubah cerah –ceria, atau sebaliknya , yang sebelumnya semangat tiba-tiba berubah jadi kehilangan gairah komunikasi.

Demikianlah memang suasana hati seseorang tidaklah pasti, bisa berubah setiap saat. Maka, sebenarnya apa yang bisa dilihat, atau dibaca atau ‘dikira-kira’ menurut perhitungan kita , sesungguhnya tidak akan mampu secara utuh mengetahui secara pasti suasana hati seseorang , apalagi secara permanen.

Jumat, 25 November 2011

Selamat Tahun Baru 1433 H


Selamat Tahun Baru 1433 H
Bahan Muhasabah Diri
Posting by : Mas Kus

ESOK hari kita akan memasuki tahun baru 1433 Hijriah, yang diawali hari-hari pertama di Bulan Muharram. Tentu saja ketika mengingat bulan Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam sistem kalender Islam, pasti tidak bisa dilepaskan dari peristiwa hijrahnya junjungan kita Rasulullah Saw dari Makkah ke Madinah, sekitar 1433 tahun yang lalu. Sebuah peristiwa bersejarah yang patut diperingati dan disemangati sebagai tonggak transformasi spiritual-sebuah perjuangan menuju tatanan kehidupan yang lebih baik. Maka sejalan apa yang disampaikan Ibnu Katsir, bahwa hijrah merupakan pemisah dua fase, yaitu fase pembangunan aqidah (di Makkah) dan pembangunan pilar-pilar negara serta perlindungannya di Madinah. Hijrah juga merupakan titik tolak terbentuknya Daulah Islamiyah dan pengeluaran manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Maka , seiring makna hijrah, yang bukan hanya dimaknai secara makani atau berpindah secara fisik, melainkan juga hijrah secara maknawi yang artinya berpindah dari suatu nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebatilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju ke-Islaman dsb. Ada yang kiranya patut direnungkan sebagai suatu muhasabah, bahwa sejauh mana kita berupaya dan menyikapi dari sebuah perubahan dari fase sekarang menuju fase hari esok yang lebih baik, dalam meraih ridha Ilahi. Terlepas dari apapun posisi kita dan dimana pun kita berada.

Persiapan Jelang Asyura'
Sebagai bagian dari memaknai tahun baru Hijriyah adalah menunaikan apa yang dianjurkan Rasulullah Saw dalam meraih keutamaan puasa Asyura' di bulan Muharram ini. Sebagaimana diketahui banyak keutamaan di dalam bulan Muharram ini sehingga disebut bulan Allah (syahrullah). Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram yang masyhur dikenal sebagai hari asyura’. Allah menyelamatkan nabi Musa as dan bani Israil dari kejaran Fir’aun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah menetapkan puasa tanggal 10 Muharram sebagai rasa syukur atas pertolongan Allah.

Ibnu Abbas r.a berkata: Ketika Nabi saw telah hijrah ke Madinah maka ia melihat orang-orang Yahudi puasa pada hari asyuraa, maka Nabi saw bertanya : Hari apakah yang kamu berpuasa? Jawab mereka: Hari ini hari besar. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun dengan tentaranya, maka Nabi Musa as telah berpuasa untuk syukur kepada Allah, dan kami pula puasa pada hari ini. Maka sabda Nabi Saw bersabda:”fanahnu ahaqqu wa aula bimuusaa minkum fashoomahu warasuulallahi shollallahu ‘alaihi wassalama wa amara ash-haabahu bishaumihi.” Maka kamilah yang lebih layak mengikuti Musa dari pada kamu, lalu nabi saw puasa dan menyuruh sahabat-sahabat supaya puasa. (HR Bukhari, Muslim) Yakni Rasulullah saw merasa lebih layak untuk mensyukuri dan memperingati hari-hari kemenangan agama Allah dan perjuangan–perjuangan para Nabi RasulNya.

Dalam keterangannya Imam Al Faqih menyebutkan bahwa disebut ‘asyura’ karena persis hari kesepuluh Muharram. Sementara menurut pendapat yang yang lain, karena para Nabi dimulayakan dengan 10 kehormatan:
1. Diterimanya taubat Nabi Adam as
2. Diangkatnya derajat Nabi Idris as
3. Mendaratnya kapal Nabi Nuh as
4. Dilahirkan dan dilantiknya nabi Ibrahim as selalku khalilullah, serta diselamatkannya dari kobaran apai namrudz
5. Diterimanya taubat nabi Daud as
6. Diangkatnya nabi Isa as ke langit
7. Diselamatkannya nabi Musa as
8. Ditenggelamkannya Fir’aun
9. Dikeluarkannya Nabi Yunus dari dalam perut ikan
10. Dikembalikannya kerajaan Nabi Sulaiman as.

Abu Qatadah ra berkata:” suila Rasuulullahi Shallallahu ‘alahi wassalam ‘an shiami ‘aasyuuraa’? Faqaala : Yukaffirussanatal maadhiyah . Rasulullah saw ditanya tentang puasa ‘asyuura’, maka jawabnya : dapat menebus dosa setahun yang lalu (HR Muslim)
Dosa-dosa yang terlebur karena amal ibadah itu adalah dosa-dosa kicil, adapun dosa-dosa besar, harus melalui taubat dengan mengikuti syarat-syaratnya.

Maka kita dianjurkan berpuasa pada hari asyura’ yang dapat dilaksanakan dengan beberapa pilihan dengan satu hari sebelum atau sesudahnya. Rasulullah Saw bersabda:” Puasalah kalian pada hari Asura, bedakanlah dengan orang-orang Yahudi, berpuasalah satu hari sebelum dan sesudahnya.”

Selamat, Tahun Baru 1433 Hijriyah

Wallahu a'lam bi syawab

Selasa, 01 November 2011

Puasa Sunnat Arafah


Keutamaan Puasa Sunnat Arafah
Posting by : Mas Kus

APABILA kita sudah terbiasa menjalankan puasa sunnat, maka pada bulan Dzulhijjah sangat dianjurkan bagi kaum muslimin menjalankan puasa sunnat Arafah, khususnya bagi yang tidak menjalankan ibadah haji.
Puasa sunnat ini dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 Dzulhijjah pada kalender Qamariyah atau Hijriyah. Kesunahan puasa Arafah tidak didasarkan adanya wuquf di Arafah oleh jamaah haji, tetapi karena datangnya hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Maka, bisa jadi hari Arafah di suatu tempat tidak sama dengan di Arab Saudi.

Tentang keutamaan berpuasa di hari Arafah , Qatadah r.a. berkata : Nabi Saw bersabda: "Bahwasanya puasa pada hari arafah itu dapat menebus dosa dua tahun yang lalu dan tahun yang akan datang". ( Riwayat Muslim)

Alfudhail berkata :”Siapa yang dapat menjaga lidah, pendengarannya dan penglihatannya pada hari Arafah, maka akan diampunkan baginya dari hari Arafah itu hingga hari Arafah tahun yang akan datang.” (Dalam Irsyadul ‘Ibad).

Wallahu a’lam bi syawab

Selasa, 18 Oktober 2011

Menyongsong Ibadah Qurban 1432 H



Esensi Sebuah Pengorbanan
Posting by : Kuspriyanto

TIADA terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah 1432 H. Dimana kita akan memperingati satu diantara sekian hari-hari Allah, yakni disyariatkannya ibadah qurban. Hari dimana seorang Nabi Allah Ibrahim as, menorehkan sejarah pengorbanannya dengan tinta emas dalam sejarah manusia. Beliau seorang Nabi yang mendapat gelar khalilullah, adalah seorang nabi yang banyak menerima ujian dan tantangan sepanjang hidupnya, selalu diiringi dengan pengorbanan demi pengorbanan yang begitu beratnya. Berbagai ujian yang ia jalani, ternyata tidak menyurutkan dalam pengabdiannya kepada Allah. Kekayaan, urusan keluarganya, bahkan anak satu-satunya yang sangat ia sayangi ia korbankan dengan tabah dan tawakkal untuk melaksanakan perintah Allah SWT.

Sebuah riwayat, bagian dari prosesi penyembelihan Ismail as, disebutkan ketika Nabi Ibrahim hendak pergi melaksanakan penyebelihan. Dia berkata kepada isrinya Hajar “Pakaikan anakmu Ismail, pakaian yang paling baik, karena aku akan mengajaknya pergi bertamu.” Maka, Hajar pun memakaikan pakaian yang bagus, memberi minyak wangi dan menyisir rambutnya,” Kemudian Ibrahim as. Dan Ismail pergi dengan membawa tali dan pisau menuju ke kota dekat Mina. Maka pada hari itu Iblis terkutuk mengalami kesibukan yang luar biasa. Sejak mulai diciptakan tidak sesibuk hari itu. Maka dia pun berupaya dengan berbagai cara untuk menggagalkan niat Ibrahim as. yang akan melaksanakan perintah Allah SWT, tapi Iblis pun tak berhasil.

Gambaran keteguhan Beliau antara lain dapat kita simak dalam dialog keduanya pada jenak-jenak terakhir sebelum tiba kesepakatan besar. ”Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar”. (QS: 37:102)
Betapa Ibrahim memanggil dengan penuh kasih sayang kepada anaknya:” “Ya Bunayya, anakku tersayang?” Kemudian Ibrahim bertanya kepada anaknya dengan hati-hati; “Cobalah pertimbangkan bagaimanakah pendapatmu tentang itu?” Dapat dibayangkan bagaimana perasaan yang berkecamuk di relung hatinya. Putranya Ismail as. dengan kebesarannya jiwanyai menjawab ,”Wahai ayahku tersayang, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar”

Ringkas cerita ketika Nabi Ibrahim dan Ismail As, telah pasrah bulat-bulat dan tawakkal kepada Allah SWT kemudian Allah SWT memberikan kabar gembira , menyuruh Ibrahim menghentikan pengorbanan anaknya dan Allah berkenan menggantinya dengan seekor domba yang besar dari surga. “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar . Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim” (QS Ash-Shaffat: 107-109)

Kita ketahui bersama, bahwa sebenarnya ibadah qurban bukan hanya sekedar ritual menyembelih ternak serta membagi-bagikan dagingnya, melainkan merupakan media mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT untuk meraih keridhaan-Nya. Sehingga pernah terjadi pada Sahabat Bilal bin Rabah, Abu Hurairah serta beberapa sahabat yang lain terpaksa hanya mampu berkurban ayam untuk ikut bersedekah qurban untuk menyatakan kepada Allah SWT (diriwayatkan dalam Subulus Salam). Demikian pula Ibnu Abbas ra pernah ketika datang hari qurban (yaumunnahr) memerintahkan kepada pelayannya agar membeli daging untuknya dengan 2 keping dirham, serta membagikannya kepada masyarakat dengan memberitahukan hal itu sebagai qurban ibnu abbas (Demikian dalam Fiqh Aktual, Dr. Setiawan Budi Utomo).

Dalam surat Al Hajj 37, Allah SWT berfirman:”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan darimulah yang dapat mencapainya.”

Menurut Imam Alm Ghazali dalam bukunya “Ayyuhal Walad”, ada empat hal yang harus dilakukan orang yang menempuh jalan taqarrub kepada Allah. Pertama, punya keyakinan yang benar dan jauh dari unsur bid’ah, Kedua, melakukan taubat nashuha, dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi kemaksiatan. Ketiga, minta keridhaan orang yang menjadi jmusuhnya (menyelesaikan haqqul adamiyah). Keempat, belajar ilmu agama, agar bisa menjalankan agama dengan benar.Disamping hal tersebut, Islam menekankan kepada kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan ibadah kepada Allah (hablumminnallah) dan hubungan baik dengan sesama (hablumminnas).

Esensi Sebuah Pengorbanan

Dalam benak kita mungkin terbersit sebuah pertanyaan , mengapa kita harus bersusah payah dalam hidup ini untuk selalu berkorban. Kenapa ? Pengorbanan yang tidak jarang diwarnai berdarah-darah dan ratapan air mata. Tapi hidup ini berjalan sesuai dengan Sunnatullah yang harus dilalui dengan segala dinamikanya, karena hidup adalah ujian semata dari allah SWT yang menuntut pertanggungjawaban, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" (QS 67: 2)

Tidak bisa dipungkiri bahwa pada hakikatnya hidup ini tak akan pernah lepas dari sebuah pengorbanan, sehingga dengan kata lain pengorbanan senantiasa hadir sebagai keniscayaan hidup. Hanya ada satu hal yang dapat memutus siklus pengorbanan manusia dalam perjalanan hidupnya adalah kematian. Bahkan dengan pengorbanan dapat mengantarkan setiap pribadi menuju kematangan pribadi dan kejayaan hidup.

Lihatlah bagaimana junjungan kita Nabi Muhammad SAW , harus berkorban demi dakwahnya sepanjang 22 tahun, harus menghadapi kekejaman kaum kafir Quraiys, Beliau dicaci maki, difitnah, disakiti, dikucilkan bahkan diancam keselamatan jiwanya. Namun demikian tidak membuat perjuangan Beliau surut ke belakang. Dan Rasulullah SAW menghadapinya dengan ketegaran, kesabaran dan keluhuran akhlaq beliau. Pernah suatu saat ketika Beliau menghadapi ancaman, Rasulullah SAW mengatakan :” Aku bersumpah demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, kemudian memintaku untuk menghentikan misi ini, aku tidak akan berpaling dari misi tersebut hingga Allah memberiku kemenangan atau aku binasa di sana.”. Begitulah akhirnya setelah melalui berbagai rintangan yang berat dan melelahkan, bahkan disertai pengorbanan yang penuh dengan darah dan air mata, akhirnya beliau mencapai kemenangan yang gemilang.

Tengoklah kisah Nabi Yusuf As, bagaimana beliau harus mengorbankan masa mudanya di dasar sumur yang gelap, lalu rela dijebloskan di penjara yang begitu melelahkan;
Kita tengok kisah Nabi Nuh, bagaimana beliau mengorbankan 950 tahun masa hidupnya untuk berdakwah dan akhirnya hanya mendapat dua belas pasang pengikut;
Kita lihat bagaimana nabi Musa dan Harun harus melewati jalan terjal dalam menyampaikan dakwahnya dan berhadapan dengan Penguasa dholim Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan.
Kita saksikan kisah Ashabul Kahfi, bagaimana para Pemuda di Zamannya yang dengan rela hati meninggalkan Kota, mengorbankan masa muda mereka hidup di dalam Gua untuk mempertahankan agama yang diyakininya.

Dengan ibadah qurban dapat diimplementasikan dengan meningkatkan kepedulian sosial atau kesalehan sosial lainnya. Karena pengorbanan itu pada hakikatnya tidak terbatas para hari raya saja, melainkan setiap saat setiap waktu dan kesempatan dibutuhkan pengorbanan . Dan nilai pengorbanan tentunya tergantung dari keikhlasan serta tingkat kesulitan apa yang dikurbankan. Sedangkan kesempurnaan apa yang kita kurbankan tentunya bersifat situasional, kontekstual dan kasuistik bergantung kepada kondisi, situasi, relevansi dan posisi seseorang dari amalan tersebut.

Oleh karena itu, sebagai umat Islam yang konsisten dengan agamanya, apabila memiliki kelonggaran rizki, tentunya tidak akan merasa keberatan melaksanakan perintah ibadah qurban tersebut, sebagai wujud melaksanakan perintah Allah SWT dalam surat Al Kautsar (Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah), serta melaksanakan himbauan Rasulullah Saw yang disampaikan oleh Aisyah RA : “ Tak ada suatu amalan dari keturunan Adam pada hari Nahar yang lebih dicintai oleh Allah Azza wa Jalla daripada mengalirkan darah (menyembelih qurban); dan sesungguhnya akan datang pada hari qiamat dengan tanduknya, dengan kotorannya, dan dengan rambut-rambutnya; dan sesungguhnya darah yang mengalir itu akan sampai kepada Allah (diterima) sebelum darah tersebut jatuh ke tanah. Makasucikanlah dirimu dengan berqurban.” (HR At Tirmidzi dan Abu Daud).

Wallahu a'lam bishawab.
Magelang, 19 Oktober 2011

Selasa, 06 September 2011

Puasa Enam Hari Bulan Syawwal


Meraih Pahala Puasa Sunnat Bulan Syawwal
Posting by : Mas Kus

Abu Ayub Al-Anshari r.a telah menceritakan hadist bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda:”Man shooma romadhoona tsumma atba’ahu sittan min syawwaalin faka-annamaa shooma dahra- Barang siapa yang puasa bulan Ramadhan kemudian mengiringinya dengan (puasa) enam hari dari bulan Syawwal, maka seakan-akan ia puasa satu tahun.” (Riwayat Khamsah kecuali Bukhari)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, dikatakan demikian karena setiap hari sama pahalanya dengan sepuluh hari , Allah Swt berfirman : Man jaa-a bil hasanati falahuu ‘asyru amtsaalihaa - Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. (Surat Al An’am : 160)
Dengan demikian kalau kita berpuasa 1 bulan Ramadhan pahalanya sama dengan berpuasa 10 bulan, sedangkan puasa 6 hari di bulan syawwal pahalanya sama dengan puasa 60 hari atau 2 bulan, sehingga secara keseluruhan pahalanya sama dengan berpuasa 12 bulan atau satu tahun penuh.

Kemudian dalam pelaksanaan puasa sunnat ini, dalam riwayat Imam Nasa’I disebutkan bahwa seandainya seseorang memisah-misahkan yang enam hari tersebut, atau ia kerjakan pada pertengahan terakhir bulan Syawwal, hal itu dianggap cukup, tetapi yang lebih utama ialah hendaknya enam hari syawwal dilakukan secara berturut-turut, dan sehabis hari raya idhul fitri.

Membiasakan puasa Syawal memiliki beberapa manfaat :
1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh;
2. Bahwa jiwa manusia sesudah menunaikan puasa ramadhan lebih cenderung kepada makanan dan apa-apa yang diinginkannya. Kemudian apabila ia kembali berpuasa dengan perintah Allah Swt, maka hal itu akan terasa berat, karena itu pahalanya pun besar;
3. Membiasakan puasa sunnat 6 hari di bulan Syawwal merupakan serangkaian upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt yang tidak terputus dengan berlalunya bulan yang penuh rahmat, maghfirah (bulan Ramadhan).

Barangkali dapat diambil hikmah sebuah nasihat ketika ada seorang Ulama’ salaf yang ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi. Kata beliau ,”Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang yang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun”.

Wallahu a’lam bi shawab.
(Sumber : Mahkota Pokok2 Hadis Rasulullah Saw, dll)

Selasa, 30 Agustus 2011

Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1432 H



Meraih Keberhasilan Idhul Fitri
Posting by : A.Kuspriyanto

Allahu Akbar 9x Kabirau walhamdulillahi katsiirau wasubhanallahi bukratau wa-ashiilaa. Laa ilaahaillallah wallahu akbar , allahu akbaru walillahi hamdu
Alhamdulillahiladzii ahallanal yaumaththo’aama wa harromashshiyaama wa ja’alal ‘iida min sya-‘aairil islam. Asyhadu allailaahaillallahul malikul ‘allam, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhul haadi ilaa sabiilissalam. Allahumma sholli wasallim ‘ala sayyidiina muhammadin wa ‘alaa aalihii wa-asyhabiihil kiroom amma ba’du.
Fayaa ‘ibaadallahittaqullaha haqqatuqaatihii walaa tamuutunna illa wa antum muslimun

Tiada kata terindah yang bisa terucap selain puji syukur kepada Allah yang Maha Ghafur, hanya atas kudrat dan iradat-Nya, hidayah serta Taufiq-Nya kita dapat berjumpa kembali di hari raya 1 Syawal 1432 H dalam suasana penuh kebahagiaan. Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw, keluarganya, tabiit-tabiin serta para pengikutnya yang istiqomah mengikuti ajarannya.


Allahu akbar 3x walillahi hamdu.
Sejalan dengan esensi puasa, Allah SWT telah memberikan fasilitas yang ekslusif kepada kita, sebulan penuh puasa di Bulan Romadhan. Maka sudah sepantasnya kesempatan itu dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh.

Rasulullah SAW bersabda: Man shaama Romadhoona iimanan wahtisaaban ghufiralahu maa taqaddama min dzambihi : Barangsiapa yang berpuasa di bulan romadhan karena iman dan ikhtisaban, maka akan diampuni dosanya yang telah terlewati. Artinya bahwa puasa yang kita kerjakan hendaknya memenuhi dua hal :Pertama, dengan semangat keimanannya, mampu menahan syahwat, membelenggu nafsu, menghantarkan jiwa dan sikap kita menuju peningkatan /perubahan kepada akhlaq yang karimah. Kedua, Puasa yang diiringi dengan semangat ihtisab. Ihtisab berasal dari kata hasaba yahsibu hisban hisaban ihtisaaban, yaitu semangat menghitung, maksudnya bermuhasabah, mengevaluasi diri kita, sudah sejauh mana kualitas ibadah yang kita kerjakan.

Ada satu maqolah , dari Sayyidina Ali K.a yang artinya:”Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia adalah orang yang beruntung, dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang hancur. Maka output dari puasa kita dalah menjadi orang yang lebih shalih / shalihah.

Suatu ibrah, pelajaran bagi kita bagaimana makhluk Allah SWT yang bernama ulat pun juga berpuasa. Ulat adalah makhluk yang menjijikkan, tidak disukai orang, hama yang merugikan. Tapi ia berpuasa menjadi kepompong, kemudian setelah mencapai masanya ia berubah menjadi kupu-kupu, makhluk yang indah. Kehandirannya senantiasa memberikan kesejukan. Bila ia hadir di taman akan menambah keindahan dan pesona yang melihatnya. Kalau ia masuk rumah, maka kehadirannya sebagai pertanda akan kehadiran tamu kehormatan.

Pada siisi yang lain, ada pula makhluk Allah yang bernama ular, juga melakukan puasa, ia merupakan makhluk yang buas dan berbahaya. Ketika ia berpuasa, ia mengurung diri di sarangnya hingga berganti kulitnya. Akan tetapi setelah ia berganti kulit yang baru, ia pun keluar dari sarangnya sebagai ular yang lebih buas dan lebih berbisa dengan “seragam barunya”. Oleh karena itu, nilai keberhasilan puasa nampaknya bukan hanya diukur ketika saat berpuasa saja melainkan juga waktu waktu setelah berpuasa.

Allahu akbar 3x walillahi hamdu.

Salah satu keberhasilan apa yang kita kerjakan pada bulan puasa, tentunya bukan hanya diukur pada waktu bulan puasa saja, justru indicator keberhasilan atsarnya akan nampak setelah kita selesai mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, yakni mulai bulan syawal ini hingga 11 bulan ke depan. Artinya setelah menunaikan shalat id, dan seterusnya mampukah kita menjaga nilai-nilai kesalihan hingga bulan Ramadhan yang akan datang secara istiqomah. Menurut Imam Al Faqih , istiqomah ditandai dengan 4 perkara:
1. Tidak mudah dipengaruhi budi seseorang dalam menegakkan yang haq
2. Tidak gentar dalam mengatasi problema yang menghadang dalam mencapai yang haq
3. Mampu mengendalikan hawa nafsu dalam menjalankan perintah Allah SWT
4. Segala fasilitas yang dimiliki tidak membuatnya lupa (selalu taat) kepada Allah SWT.

Allahu akbar 3x walillahi hamdu

Sebagai manusia memang kita menyadari kelemahannya :” …dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisa’ :28) Suatu kelemahan, dimana kita cenderung mudah tergoda untuk berbuat dosa dan mengotori kesucian jiwanya. Kita punya hati, kadang tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, kita memiliki mata tetapi kadang tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah , dan kita punya telinga juga kadang tidak dipergunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Akan tetapi Allah Swt Maha Pemaaf, lebih-lebih di bulan puasa. Seandainya kita semua mengetahui kebaikan bulan Ramadhan tentu akan berharap semua bulan menjadi Ramadhan. Rasulullah Saw bersabda. Lauta’lamu ummati maa fii romadhaana latamannau an takuunassanatu kulluha ramadhaana. (Dari Ibnu Abbas Ra. Rasullullah Saw bersabda:”Kalau sekiranya umatku mengetahui kebaikan di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar supaya tahun semuanya itu menjadi Ramadhan.”)

Oleh karena itu, dengan perjuangan yang cukup gigih menahan berbagai godaan, dan kini kita telah sampai pada hari raya idhul fitri ini merupakan moment keberhasilan awal yang masih harus duji dan dibuktikan 11 bulan ke depan. Sebagai ungkapan rasa syukur memperingati kemenangan awal, tentu boleh orang merayakannya sesuai dengan kemampuannya masing-masing dengan azas kesederhanaan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam segala hal (tidak boros, juga tidak pelit). Baju baru dan berbagai macam makanan (bahasa Jawa : kembange mejo) nampaknya merupakaian bagian yang tak bisa dihindarkan dari tradisi lebaran. Oleh karena itu bisa dimaklumi, bagaimanapun situasinya orang akan berupaya untuk menyediakannya. Dalam hal ini ada maqolah yang mengingatkan: Laisal ‘iidu liman labisal jadiida innamal ‘iidu liman thoo’atuhu tajiiduLebaran bukan dengan pakaian / barang yang baru, tapi lebaran adalah untuk mereka yang taatnya kepada Allah semakin bertambah.

Konkritnya, akan lebih bermakna pada hari raya ini apabila kita buktikan dengan meningkatkan amal sholih seperti halnya bersilaturahmi kepada keluarga , tetangga atau bersedekah membantu kepada orang yang membutuhkan, serta amal sholih yang lain.

Nabi Saw pernah bersabda kepada Uqbah bin Amir r.a:” Wahai Uqbah! Maukah engkau ku beritahukan tentang budi pekerti ahli dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu: (tashilu man qotho’aka-Melakukan shilaturahim (menghubungkan kekeluargaan dengan orang yang telah memeutuskannya), (wa tu’thi man haroomaka) memberi pada orang yang tidak pernah memberimu, dan (wa ta’fuu ‘amman dhaalamaka) memaafkan orang yang pernah menganiayamu.

Untuk menjadi orang yang berakakhlaq mulia ( tidak pendendam dan pemaaf) memang tidaklah mudah, apalagi kita lakukan kepada orang yang memusuhi kita sebagaimana dianjurkan junjungan kita Rasulullah Saw. Rasulullah Saw pernah suatu waktu, dalam peperangan suci di Uhud, seorang budak hitam bernama Wahsyi, yang dijanjikan oleh tuannya akan dimerdekakan bila bisa membunuh paman Nabi yang bernama Hamzah bin Abdul Muththolib r.a, ternyata budak itu berhasil membunuh Hamzah dan ia dimerdekakan. Kemudian ia masuk islam dan menghadap kepada Nabi Saw. Ia menceritakan peristiwa pembunuhan paman nabi. Walaupun Nabi Saw telah menguasai Wahsyi dan kuasa untuk melakukan pembalasan, namun Rasulullah Saw tidak melakukannya bahkan memaafkannya. Subhanallah, sungguh mulia akhlakh beliau. Maka apabila kita bisa meneladani dan melaksanakan apa yang dianjurkan beliau, berarti nilai-nilai puasa telah tertanam dalam pribadi kita.

Allahu akbar 3x walillahi hamdu.
Marilah kita beningkan hati kita dengan senantiasa mengingat Allah, penuhi jiwa kita dengan kasih, melalui hari ke depan dengan senyuman, tetapkan langkah kita dengan syukur dan sucikan hati kita dengan permohonan maaf. Taqobballahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua, dan kita kembali fitrah dan meraih kesuksesan. Dan semoga setiap tahun kita selalu dalam kebaikan.

Saya dan keluarga menyampaikan :

Di hari yang fitri ini
Dengan ketulusan dan kerendahan hati
Yang mungkin sering membuat resah gelisah
Mohon maaf segala khilaf dan salah

Kupat kecemplung santen
Menawi kulo lepat nyuwun pangapunten

Suminten kejedug jendelo
Nyuwun ngapunten sedoyo lepat kulo
Mugi sehat lan selamet sedoyo

Di Irian ada burung Cendrawasih
Cukup sekian dan terima kasih

Magelang, 1 Syawal 1432 H (bertepatan tanggal 31 Agustus 2011)