Tampilkan postingan dengan label wisataziarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisataziarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Maret 2011

Berwisata Ke Gunung Telo Moyo


Mendaki Ke Gunung Telomoyo
Posting by:Mas Kus

Dari Wahana Wisata Air terjun Sekar langit, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Wana Wisata Pegunungan Telomoyo. Gunung Telomoyo secara geografis terletak di wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Gunung ini berada pada ketinggian sekitar 1.900 m dpl dan merupakan gunung api yang berbentuk kerucut (strato). Gunung yang diapit oleh Gunung Merbabu, Gunung Andong dan Gunung Sumbing ini, memang tercatat belum pernah meletus. Para pendaki atau Wisatawan domestik bisa melakukan pendakian hingga ke puncak gunung dengan menggunakan kendaraan sepeda motor maupun jalan kaki.

Kami kebetulan melakukan perjalanan pendakian dengan menggunakan sepeda motor. Mengawali masuk ke kawasan Gunung Telomoyo, kami telah berada di pos penjagaan Kawasan Perhutani yang tepatnya berada di Dusun Dalangan Kec. Ngablak. Perjalanan dari Sekar Langit menuju ke Dusun Dalangan sekitar 9 km. Setelah mendapatkan kartu pengunjung dengan retribusi Rp.3.000 per orang , dipersilahkan sepuasnya menikmati alam pegunungan.

Perjalanan menuju ke puncak dari pos penjagaan masih cukup jauh sekitar 7 km-an. Kebetulan kami menggunakan sepeda motor, dapat berjalan cepat, namun hati-hati jaga diri terutama kalau kondisi sepi, disamping itu jalannya sebagian besar sudah rusak berlubang. Apalagi saat itu kondisi baru hujan, dan berkabut dengan suhu cukup dingin .Sehingga terpaksa kami mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan perjalanan sampai di puncak. Tapi yang jelas, cukup mnyenangkan menikmati keindahan alam pegunungan. Sambil berlibur, rekreasi bersama teman dan keluarga .
"Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiao hamba yang kembali (mengingat Allah)" (QS. Qaaf : 7-8)

Wallahu a'lam bi shawab

Berwisata Ke Sekar Langit


Wisata Air Terjun Sekar Langit
(posting by: Mas Kus)


Seusai napak tilas , dari Makam Sunan Geseng, kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati keindahan Alam karunia Allah Swt, di sebuah kawasan wisata air terjun yang letaknya tidak jauh dari makam Sunan Geseng, tidak lebih 1 km dari makam, terdapat wahana wisata air terjun sekar langit, yang tepatnya berada di Ds. Tlogorejo, Kec. Grabag Kab. Magelang. Retribusi masuk hanya Rp.2000,- per orang , dipersilahkan bebas menikmati keindahan alam di kawasan obyek wisata tersebut. Dari pintu masuk berjalan sampai di lokasi air terjun sesuai jalur yang disediakan sekitar 0,5 km atau memakan waktu hanya 10-15 menit. Jalan sebagian sudah dipermanen, akan tetapi sebagian besar jalan menuju ke lokasi masih belum dipermanen.

Air terjun yang tingginya mencapai 20-30 meter tersebut, cukup menarik untuk dinikmati. Di bawah air terjun kami saksikan ada beberapa remaja atau wisatawan domestic yang sedang mandi atau berbasah-basah di sekitar tumpahan air terjun, sambil duduk di bebatuan besar yang ada di sepanjang sungai di Kawasan Sekar langit. Subhanallah, alam yang indah yang Allah telah karuniakan kepada manusia untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Ziarah Ke Sunan Geseng



Catatan Perjalanan Ziarah Ke Sunan Geseng
Ahad, 15 Rabiul Tsani 1432 H
Posting by : Mas Kus

PAGI itu jam menunjukkan kurang lebih pukul 8 WIB, suasana pagi yang cerah, nampak sang Mentari bersinar dari upuk timur. Kami telah beranjak dari rumah menyusuri jalan raya Magelang-Semarang. Kali ini kami akan napak tilas berziarah ke Makam Wali Allah, yakni Sunan Geseng. Perjalanan kami telah sampai di depan terminal Secang. Dari terminal Secang perjalanan menuju ke makam Sunan Geseng kurang lebih 9 km, tepatnya berada di Dusun Tirto Kec. Grabak Kab. Magelang. Dua kilometer dari terminal Secang ke arah semarang, yakni sampai di pertigaan Dusun Krincing kemudian belok kanan lurus sampai di pasar Grabag, kemudian belok kiri menuju ke arah Dusun Tirto. Hanya dalam tempo kurang dari 20 menit sampailah di dusun Tirto.

Saatnya menapaki jalan menuju ke Makam Sunan Geseng yang berada di sebuah puncak bukit, di kaki gunung Andong. Ada puluhan trap yang harus didaki sampai di lokasi Makam. Trapnya cukup lebar, dan relatif nyaman untuk pendakian . Sekitar 10 menit berjalan sampailah kami di lokasi Makam Sunan Geseng.

Legenda Sunan Geseng

Masyarakat di sekitar makam, banyak yang meyakini bahwa makam yang ada di puncak bukit tersebut, dengan bangunan yang berbentuk cungkup, di dalamnya terdapat makam Sunan Geseng. Kendatipun ditemukan pula makam Sunan Geseng yang lain,yang terletak di dusun Jolosutro, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul.

Sunan Geseng,sering disebut pula Eyang Cakra jaya.Beliau menurut riwayat, merupakan murid Sunan Kalijaga. Konon keturunan Imam Jafar ash-Shadiq, yang bernasab: Sunan Geseng bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Muhammad Wahid bin Hasan bin Asir bin ‘Al bin Ahmad bin Mosrir bin jazar bin Musa bin Hajr bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w. Sementara itu, ada sumber yang mengatakan beliau keturunan tiga kerajaan besar di Tanah Jawa, yakni dari Trah Prabu Brawijaya dan Dewi Rengganis, kemudian Pangeran Sumono, Pangeran Kartosuro, Temenggung Wirantoko, Temenggung Wono Joyo, sampai ke Raden Mas Cokro Joyo. Adapun Dewi Rengganis, adalah putri dari P. Darmomoyo, putra Nyai Ageng Bagelan, keturunan trah Mataram Purbo, dan masih keturunan dari Pajajaran.

Menurut hikayat, setelah beliau mengikuti anjuran Sunan Kalijaga agar mengasingkan diri di suatu hutan untuk menjalankan lelaku beribadah kepada Allah. Di tengah-tengah lelakunya tersebut, hutan yang ditempatinya terbakar, tapi beliau tetap melanjutkan lelakunya, sesuai pesan sang Guru untuk jangan memutus ibadah, apapun yang terjadi, sampai akhirnya Sunan Kalijaga datang menjenguknya. Begitulah, ketika kebakaran itu berhenti dan Sunan Kalijaga menjenguknya, didapati Cakrajaya telah menghitam hangus, meskipun tetap sehat wal afiat. Maka beliau diberikan gelar Sunan Geseng.

Berwisata Ke Sekar Langit
Seusai napak tilas , dari Makam Sunan Geseng, kami melanjutkan perjalanan untuk menikmati keindahan Alam karunia Allah Swt, di sebuah kawasan wisata air terjun yang letaknya tidak jauh dari makam Sunan Geseng, tidak lebih 1 km dari makam, terdapat wahana wisata air terjun sekar langit, yang tepatnya berada di Ds. Tlogorejo, Kec. Grabag Kab. Magelang. Retribusi masuk hanya Rp.2000,- per orang , dipersilahkan bebas menikmati keindahan alam di kawasan obyek wisata tersebut. Dari pintu masuk berjalan sampai di lokasi air terjun sesuai jalur yang disediakan sekitar 0,5 km atau memakan waktu hanya 10-15 menit. Jalan sebagian sudah dipermanen, akan tetapi sebagian besar jalan menuju ke lokasi masih belum dipermanen.
Air terjun yang tingginya mencapai 20-30 meter tersebut, cukup menarik untuk dinikmati. Di bawah air terjun kami saksikan ada beberapa remaja atau wisatawan domestic yang sedang mandi atau berbasah-basah di sekitar tumpahan air terjun, sambil duduk di bebatuan besar yang ada di sepanjang sungai di Kawasan Sekar langit. Subhanallah, alam yang indah yang Allah telah karuniakan kepada manusia untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Pegunungan Telomoyo
Dari Wahana Wisata Air terjun Sekar langit, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Wana Wisata Pegunungan Telomoyo, Gunung Telomoyo secara geografis terletak di wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Gunung ini berada pada ketinggian sekitar 1.900 m dpl dan merupakan gunung api yang berbentuk kerucut (strato). Gunung yang diapit oleh Gunung Merbabu, Gunung Andong dan Gunung Sumbing ini, memang tercatat belum pernah meletus. Para pendaki atau Wisatawan domestik bisa melakukan pendakian hingga ke puncak gunung dengan menggunakan kendaraan sepeda motor maupun jalan kaki.

Kami kebetulan melakukan perjalanan pendakian dengan menggunakan sepeda motor. Mengawali masuk ke kawasan Gunung Telomoyo, kami telah berada di pos penjagaan Kawasan Perhutani yang tepatnya berada di Dusun Dalangan Kec. Ngablak. Perjalanan dari Sekar Langit menuju ke Dusun Dalangan sekitar 9 km. Setelah mendapatkan kartu pengunjung dengan retribusi Rp.3.000 per orang , dipersilahkan sepuasnya menikmati alam pegunungan.

Perjalanan menuju ke puncak dari pos penjagaan masih cukup jauh sekitar 7 km-an. Kebetulan kami menggunakan sepeda motor, dapat berjalan cepat, namun hati-hati jaga diri terutama kalau kondisi sepi, disamping itu jalannya sebagian besar sudah rusak berlubang. Apalagi saat itu kondisi baru hujan, dan berkabut dengan suhu cukup dingin .Sehingga terpaksa kami mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan perjalanan sampai di puncak. Tapi yang jelas, cukup mnyenangkan menikmati keindahan alam pegunungan. Sambil berlibur, rekreasi bersama teman dan keluarga .

Rabu, 16 Februari 2011

Ziarah Ke Gunung Tidar


Catatan Perjalanan Ziarah Ke Syekh Subakir dan Kyai Sepanjang
Posting by : Mas Kus

Pagi itu suasana cerah. Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi, tanggal 12 Rabiul Awwal 1432 H. Kebetulan hari itu bertepatan hari libur nasional, sehingga lumayan bisa santai jalan-jalan melepas kepenatan kerja. Kami telah bertolak dari rumah , berjalan menyusuri jalan di sepanjang Jalan Ahmad Yani menuju ke Jalan Ikhlas Kota Magelang. Kurang lebih sekitar satu setengah jam kemudian (perjalanan kaki) , kami telah sampai di bekas Terminal lama Kota Magelang atau lokasi di bawah pegunungan Tidar.

Inilah perjalanan kami dalam rangka jelajah Ziarah Ke Petilasan Syekh Subakir dan Kyai Sepanjang di Pegunungan Tidar . Namun sebelum berziarah ke gunung Tidar , terlebih dulu mencari tempat kuliner untuk sekedar mengisi ’energi’ agar tidak pingsan dalam perjalanan selanjutnya. Tengok sana –tengok sini akhirnya mampir ke Warung Makan penjual makanan kuliner yang cukup dikenal di Kota magelang, yaitu Sop Senerek yang lokasinya berada di bekas Terminal Lama Kota Magelang. Kendatipun masih pagi, sudah banyak para pembeli yang mau sarapan pagi. Harga cukup murah-meriah, kami berdua makan 2 porsi sop dan minum , cukup merogoh kocek Rp. 17.000,- . Akhirnya perut sudah terisi, saatnya melanjutkan perjalanan ziarah.

Sebelum melanjutkan perjalanan mendaki ke pegunungan Tidar, kami mampir di sebuah Mushola yang berada di sebelah warung makan yang kami singgahi untuk sejenak berwudlu. Kemudian melanjutkan perjalanan melakukan pendakian naik ke pegunungan Tidar.

Gunung Tidar, merupakan tempat yang cukup dikenal di Kota Magelang. Kendatipun demikian, tentu tidak semua penduduk Magelang pernah mengunjungi pegunungan Tidar hingga di puncaknya. Mungkin ada kesan sebuah gunung belantara yang angker yang dipenuhi dengan hewan buas dan aneka satwa lainnya. Sebenarnya, Gunung Tidar adalah sebuah bukit kecil yang berada di sebelah selatan Kota Magelang, yang berada kurang lebih 500-600 di atas permukaan laut. Secara umum memang gunung Tidar masih alami, banyak tanaman Pinus, Salak dan tanamam buah-buahan tahunan lainnya hasil Penghijauan tahun 1960-an, sehingga menjadikan gunung Tidar tampak rimbun, tapi cukup bersih dan tidak terkesan angker seperti yang dibayangkan sebagian orang.

Sedangkan asal - muasal nama Tidar sendiri banyak versinya. Ada yang mengatakan Tidar berasal dari kata ”Mati opo modar’ , mungkin karena kisah ke-angkerannya, di ibaratkan ”Jalmo Moro Jalmo Mati’, setiap orang yang datang ke gunung Tidar harus berhadapan dengan kemungkinan ”berani datang berarti siap mati atau Modar.”

Kami mulai melakukan pendakian menuju puncak gunung Tidar melalui pintu masuk, yang berada di kampung Magersari Kota Magelang. Jalan pendakian menuju ke atas Gunung Tidar bertrap-trap yang telah dipermanen dengan lebar pijakan rata-rata sekitar 30 cm. Jumlah trap untuk mendaki ke atas jumlahnya ratusan . Perlu diingat agar berhati-hati karena pijakan relatif sempit sedang tanjakan agak tajam. Setelah berjalan mendaki sekitar 30 menit , sampailah kami pada persinggahan pertama, tempat petilasan Syekh Subakir.

Syekh Subakir
Konon Syekh Subakir, merupakan Ulama dari Timur Tengah, bersama – sama dengan Wali Songo menyebarkan Agama Islam di Tanah Jawa. Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, bahwa beliau memiliki kemampuan linuwih dalam hal ’menumbali daerah yang angker dihuni makhluk halus’. Dan ternyata memang Syekh Subakirlah yang berhasil menaklukkan Jin dan makhuk halus yang bersemayam di Gunung Tidar. Konon, menurut kepercayaan sebagian masyarakat, dahulu Gunung Tidar hanya dihuni dan dikuasai oleh para Jin dan Setan. Melalui laku spiritual beliau dan sebuah tombak yang bernama ’Kyai Sepanjang’ yang beliau bawa dari negerinya, ia tancapkan tepat di puncak Gunung Tidar sebagai sarana penolak bala. Dan memang benar, konon tombak tersebut mengeluarkan hawa panas yang membuat para Jin dan dedemit di gunung tidar lari tunggang langgang karena ’sumuk-kepanasan’. Akhirnya mereka berlarian mencari tempat hunian baru, tanpa harus direlokasi. Sebagian besar menempati kapling baru di kawasan Gunung Merapi, yang belum lama menyemburkan berjuta-juta meter kubik lahar dingin, dengan berbagai cerita misteri batu dan pasirnya. Sedangkan sebagian yang lain menempati hunian ’asri’ di kawasan Alas Roban dan dikawasan Gunung Srandil.

Makam Kyai Sepanjang
Makam Kyai Sepanjang ini dapat kita jumpai, pada tempat Persinggahan kedua , kurang lebih beberapa puluh meter setelah makam Syekh Subakir. Makam yang terlihat masih belum lama direnovasi ini , bila diamati sekilas mengisyaratkan bukan tempat makam, melainkan sebuah ruang pertemuan. Namun kalau dicermati lebih dekat, akan tampak sebuah makam yang panjang seperti kita saksikan pada makam Raja-Raja dahulu. Panjang Makam Kyai Sepanjang mencapai 7 meter. Menurut cerita sebagaian masyarakat, diceritakan bahwa sebenarnya Kyai Sepanjang itu,murid Syekh Subakir. Karena pernah melakukan kesalahan dan sulit untuk disadarkan, seperti layaknya besi bengkok yang sulit untuk diluruskan, maka Kyai Sepanjang kena tulah dari Syekh Subakir hingga berubah bentuk menjadi Tombak, yang dikenal dengan Tombak Kyai Sepanjang.

Situs Paku Tanah Jawa
Dari tempat persinggahan kedua, kami melanjutkan perjalanan menuju ke persinggahan ke tiga. Hanya dengan mendaki puluhan trap, kemudian berjalan melalui sebuah lapangan yang cukup lebar. Nah dilapangan ini,kami menyaksikan sebuah Tugu sekitar 10 meteran tingginya. Tugu yang memiliki simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam tulisan Jawa yang mengisyaratkan pesan moral ’Sopo Salah seleh, barang siapa yang berbuat salah pasti akan ketahuan.” Dalam ajaran agama kita diingatkan ” Barang siapa yang berbuat baik sekecil apapun pasti akan mendapat balasan, demikian sebaliknya barang siapa yang berbuat kejahatan, walaupun sekecil apapun kejahatan itu , pasti akan mendapat balasannya pula.” Dan Tugu ini ,konon dipercaya sebagian masyarakat sebagai Pakunya Tanah Jawa, sehingga tanah jawa tetap tenang dan aman.

Makam Kyai Semar
Setelah melewati lapangan yang cukup lebar tadi, akhirnya sampai di makam Kyai Semar atau Sang pamomong Tanah Jawa.
Kami sendiri kurang begitu paham keberadaan dan sejarah makam Kyai Semar. Konon Kyai Semar ini bukan Tokoh Legendaris di Dunia Pewayangan ,tapi merupakan Tokoh central Jin yang pernah berjaya di Gunung Tidar Tempo doeloe. Entahlah, mana yang benar , yang pasti kami menyaksikan di puncak Pegunungan Tidar terdapat sebuah makam yang belum lama dipugar yang berbentuk kerucut dicat dengan warna kuning. Pada dasar kerucutnya dihiasi dengan tulisan Jawa hanacaraka dan dipuncaknya disunduk janur kuning. Konon Makam yang berbentuk kerucut dikenal ’Tumpeng Jejeg sejati” yang berarti orang hidup itu harus berlaku lurus (istiqomah di jalan yang benar yang diridhai Allah Swt), serta agar senantiasa bersyukur kepada yang memberi hidup ini.

Sejenak kami tertegun menyaksikan Situs-situs di Puncak Gunung ini, kami teringat dalam salah Firman Allah SWT, ketika Allah memberikan wahyu kepada Daud:”Demi keagungan-Ku setiap hamba yang menggantungkan diri kepada-Ku,tanpa bergantung kepada makhluq-Ku (yang Ku-ketahui dari niatnya) dan ditipu oleh siapapun yang ada di langit dan di bumi, pasti aku beri jalan keluar baginya dari tipu muslihat itu. Dan setiap hamba yang menggantungkan diri kepada makhluq , tanpa bergantung kepada-Ku (yang Ku-ketahui dari niatnya) Aku putuskan sumber rizkinya dari langit, dan Aku tetapkan kehancurannya. Dan setiap hamba yang ta’at kepada-ku,pasti Aku mengaruniai-nya sebelum meminta kepada-Ku, dan mengabulkannya sebelum berdo’a kepada-Ku, serta mengampuninya sebelum minta ampunan kepada-Ku.” (HRQ Tamam, Ibnu ’Asakir dan Dailami dari Abdurrachman bin Ka’ab bin Malik yang bersumber daribapaknya).

Turun Gunung
Setelah mengamati dan mondar-mandir kesana-kemari, akhirnya capek juga. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk turun gunung. Dalam perjalanan turun gunung, kami berpapasan dengan para duafa, yang siap menerima ’sedekah’, jumlahnya sekitar 10-15 orang. Maka apabila Anda berkesempatan mengunjungi Pegunungan Tidar, sebaiknya sisihkan uang receh atau sebagian rizki untuk mereka. Tentu mereka akan senang dan mereka spontan akan mendo’akan Anda, ”Mugi-mugi diparingi slamet lan berkah” .

Demikian tadi, sekilas catatan perjalanan kami mengunjungi Gunung Tidar, ziarah napak tilas – Jejak Para Kekasih Allah dan Para Pejuang.

Wallahu a'lam bi shawab