Kamis, 16 Desember 2010

Membangun Ukhuwah Islamiyah

Mengurangi Rapuhnya Komunitas
Posting by : A.Kuspriyanto

BERSATU Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh. Begitu sering kita dengar sebuah pepatah yang tidak asing lagi. Dalam membangun sebuah komunitas, baik itu dalam keluarga, masyarakat ataupun yang lainnya, mutlak diperlukan sebuah kekompakan, kebersamaan , persatuan. Tanpa adanya kekompakan, kebersamaan dan persatuan suatu komunitas akan mustahil dapat mempertahankan keutuhannya, bahkan akan cerai-berai. Apalagi di saat ini, tantangan zaman yang modern dan gaya hidup yang semakin sekuler , disinyalir adanya penurunan kualitas sebuah komunitas, dengan kata lain rapuhnya komunitas kita.
Benarkah sekarang kita berada dalam komunitas yang rapuh? Sebuah pertanyaan yang mungkin pernah hinggap di benak kita. Kalau kita cermati dan saksikan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Lebih-lebih saat ketika rame-nya orang memperjuangkan sebuah kepentingan organisasinya masing-masing. Begitu besarnya semangat “egoisme” individu atau kelompok itu mengkristal , seolah jauh dari semangat kebersamaan dan persaudaraan.

Mungkin ada benarnya, isyarat yang disampaikan Rasulullah Saw 14 Abad yang lalu akan terjadinya suatu komunitas yang rapuh. Kerapuhan mereka bukan karena jumlahnya yang minoritas, akan tetapi justru ironisnya mereka mayoritas dari segi kuantitatif. Akan tetapi dari segi kualitatif mereka sungguh memprihatinkan. Diibaratkan oleh Rasulullah SAW mereka ibarat buih yang terapung-apung di atas air bah. Lebih disayangkan lagi dengan jumlahnya yang besar hanya dijadikan ‘bahan rebutan’ bagi yang berkepentingan ibarat makanan dalam hidangan yang diperebutkan oleh orang-orang yang lapar.

Nabi Muhammad SAW pernah memberikan isyarat kepada Sahabatnya tentang keadaan umat Islam di akhir zaman, “ Akan datang suatu masa, umat lain akan memperebutkan kamu, ibarat orang-orang yang lapar memperebutkan makanan dalam hidangan. Sahabat menanyakan:”Apakah lantaran pada waktu itu jumlah kami hanya sedikit, ya Rasulullah? Dijawab oleh beliau, “Bukan, bahkan sesungguhnya jumlah kamu pada waktu itu banyak, tetapi kualitas kamu ibarat buih yang terapung-apung di atas air bah. Dan dalam jiwamu tertanam kelemahan jiwa”. Sahabat bertanya :”Apa yang dimaksud kelemahan jiwa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab:” Yaitu cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud)

Kondisi yang digambarkan Rasulullah Saw di atas, mungkin bisa jadi ada pada diri kita atau di lingkungan kita. Karena kendatipun tubuh kita sehat, otak kita cerdas, tapi jiwa kita lemah. Kelemahan jiwa itu dijelaskan Rasulullah karena terjangkit penyakit yang dapat menurunkan kekuatan ukhuwah “cinta dunia dan takut mati”. Berbagai upaya yang dilakukan dan keinginan hanya dipusatkan untuk mencapai kesenangan dunia semata-mata. Semua usahanya diperhitungkan dan dihargai dengan keuntungan dunia semata, sekalipun apa yang dikerjakan merugikan orang lain. Demikian pula, perjuangan dalam usaha agama semakin menipis, bahkan nyaris tidak ada lagi gemanya. Oleh karena itu, berbagai upaya seharusnya dilakukan untuk mengokohkan ukhuwah islamiyah.

Membangun Ukhuwah Islamiyah

Sesungguhnya sebagai umat manusia berdasarkan fitrahnya memiliki keinginan saling kerjasama, saling bantu membantu dengan sesama. Begitu pula kita selaku umat Islam, sudah barang tentu semestinya memiliki jiwa persatuan dan persaudaraan kepada sesama, terlebih kepada sesama Umat Muslim (ukhuwah Islamiyah), karena ukhuwah islamiyah ini termasuk perintah Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujuurat : 10, yang artinya:” Sesungguhnya orang-oran mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan betaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat .”

Meskipun dimaklumi bahwa hidup ini banyak masalah yang terkadang menjadikan salah paham, pertentangan, permusuhan dan bahkan peperangan. Akan tetapi, hendaknya jangan sampai mengabaikan ukhuwah islamiyah. Tentunya kita harus memiliki visi, misi dan semangat idealisme yang tidak boleh padam, yakni dalam upaya memperjuangkan Agama Allah, tegaknya agama Islam. Insya Allah permasalahan yang ada dapat dicarikan solusi secara bijaksana dalam kebersamaan.

Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk memupuk rasa persaudaraan (ukhuwah) tersebut , saling melengkapi –saling membantu, di sisi yang lain kita juga menyadari ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sungguh tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, karena ini merupakan sunnatullah.

Toleransi , saling menghormati dan memahami terhadap sesama ini sangat baik untuk dipupuk dan dikembangkan. Sehingga diharapkan meskipun ada perbedaan faham, khilafiyah furuiyyah, aspirasi politik dsb, tidak menjadi pemicu perpecahan sesama umat Islam, yang pada akhirnya akan menjadikan terganggunya ukhuwah islamiyah.


Perbedaan-perbedaan tersebut diatas, diperbolehkan dalam Islam, karena kita tidak mungkin dijadikan satu saja tanpa sebuah perbedaan, tetapi memiliki kepentingan yang tidak mesti sama. Namun demikian, hal yang perlu dihindari adalah sifat ta’asyub jahiliyah, yakni merasa bahwa faham, politik dan pendapatnyalah yang paling benar, sehingga kadang tidak bisa memahami akan kepentingan orang lain, bahkan lebih jauh mengabaikan kepentingan yang lebih besar, ukhuwah islamiyah.

Satu hal yang perlu direnungkan bahwa kita tak akan mungkin meraih kejayaan tanpa ada persatuan dan kesatuan, yang didasari dengan ukhuwah islamiyah yang solid, jauh dari sifat ta’asub jahiliyah. Oleh karena itu, maka sudah menjadi kebutuhan kita semua untuk saling bantu membantu dalam kebaikan untuk meraih ridho Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah dalam QS Al Maidah : 2 ” Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya”.

Wallahu a’lam bi shawab.

Senin, 13 Desember 2010

Hari Asyura'

Perbanyak Sedekah di Hari Asyura’
Posting by : A.Kuspriyanto

BULAN Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Banyak keutamaan di dalam bulan Muharram ini sehingga disebut bulan Allah (syahrullah). Pada bulan ini terdapat hari yang masyhur , tepatnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai hari asyura’. Allah menyelamatkan nabi Musa as dan bani Israil dari kejaran Fir’aun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah menetapkan puasa tanggal 10 Muharram sebagai rasa syukur atas pertolongan Allah.

Ibnu Abbas r.a berkata: "Ketika Nabi saw telah hijrah ke Madinah maka ia melihat orang-orang Yahudi puasa pada hari asyuraa, maka Nabi saw bertanya : Hari apakah yang kamu berpuasa? Jawab mereka: Hari ini hari besar. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun dengan tentaranya, maka Nabi Musa as telah berpuasa untuk syukur kepada Allah, dan kami pula puasa pada hari ini. Maka sabda Nabi Saw bersabda:”fanahnu ahaqqu wa aula bimuusaa minkum fashoomahu warasuulallahi shollallahu ‘alaihi wassalama wa amara ash-haabahu bishaumihi.” Maka kamilah yang lebih layak mengikuti Musa dari pada kamu, lalu nabi saw puasa dan menyuruh sahabat-sahabat supaya puasa. (HR Bukhari, Muslim). Yakni Rasulullah saw merasa lebih layak untuk mensyukuri dan memperingati hari-hari kemenangan agama Allah dan perjuangan–perjuangan para Nabi - RasulNya.

Dalam keterangannya Imam Al Faqih menyebutkan bahwa disebut ‘asyura’ karena persis hari kesepuluh Muharram. Sementara menurut pendapat yang lain, karena para Nabi dimuliakan dengan 10 kehormatan:
1. Diterimanya taubat Nabi Adam as
2. Diangkatnya derajat Nabi Idris as
3. Mendaratnya kapal Nabi Nuh as. (Hampir 6 bulan lamanya umatnya yang ingkar dimusnahkan dengan bencana banjir topan (tsunami) , hingga tersisa 80 orang pengikut setia yang selamat).
4. Dilahirkan dan dilantiknya nabi Ibrahim as selaku khalilullah, serta diselamatkannya dari kobaran api Namrudz
5. Diterimanya taubat nabi Daud as
6. Diangkatnya nabi Isa as ke langit
7. Diselamatkannya nabi Musa as
8. Ditenggelamkannya Fir’aun
9. Dikeluarkannya Nabi Yunus dari dalam perut ikan
10. Dikembalikannya kerajaan Nabi Sulaiman as.

Abu Qatadah ra berkata: ” Suila Rasuulullahi Shallallahu ‘alahi wassalam ‘an shiami ‘aasyuuraa’? Faqaala : Yukaffirussanatal maadhiyah . Rasulullah saw ditanya tentang puasa ‘asyuura’, maka jawabnya : dapat menebus dosa setahun yang lalu" (HR Muslim)
Dosa-dosa yang terlebur karena amal ibadah itu adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa-dosa besar, harus melalui taubat dengan mengikuti syarat-syaratnya.

Maka kita dianjurkan berpuasa pada hari Asyura’ yang dapat dilaksanakan dengan beberapa pilihan dengan satu hari sebelum atau sesudahnya, tanggal 9, 10 atau 10, 11 atau 9, 10 dan 11. Rasulullah Saw bersabda:” Puasalah kalian pada hari Asyura, bedakanlah dengan orang-orang Yahudi, berpuasalah satu hari sebelum dan sesudahnya.”
Selain berpuasa, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak sedekah pada kaum fakir-miskin dan bersedekah kepada keluarga, menambah uang belanja rumah tangga dengan cara yang sesuai syar’i, serta menyantuni anak yatim.

Wallahu a’lam bi shawab

Jumat, 10 Desember 2010

Sami'na Wa atho'na


Menyoal Sebuah Kepatuhan
Posting by : A.Kuspriyanto

SETIAP kali kita menerima suatu himbauan Agama (ajakan secara halus), atau yang lebih keras ‘sebagai suatu perintah’, biasanya kita akan memberikan respon terhadap ajakan tsb. Ada yang hanya didengar, kemudian ditindaklanjuti; didengar ditanyakan bahkan diperdebatkan tetapi tidak pernah dilaksanakan atau bahkan didengar, dipikir-pikir tapi diabaikan atau dilanggar.

Memang bisa dimaklumi Era globalisasi, sering semua masalah digenerasilasi harus dipikir sampai “jlimet”, ini lho yang namanya rasional. Rene Descartes mengatakan ”cogito ergo sum” yang artinya aku berpikir, maka aku ada, yang mengandung maksud bahwa dengan berpikir mampu mengadakan sesuatu. Padahal sebenarnya berpikir bukanlah bisa mengadakan sesuatu tetapi hanya menyadari keberadaan sesuatu. Nampaknya pikiran manusia tidak akan pernah menjangkau hakikat keberadaan Tuhan, hakikat sebuah kebenaran yang hakiki dan sebagainya yang bersifat abstrak.

Secara sederhana keluguan kepatuhan terhadap hukum ini pernah diungkapkan dalam kisah seorang pembantunya Nabi Muhammad SAW yang bernama Robiah. Saking setianya, sampai seluruh hidupnya digunakan untuk berbakti kepada Kanjeng Nabi dengan keikhlasan hingga akhir hayatnya. Bahkan ketika ditawari untuk berhenti bekerja , karena mungkin usianya sudah udzur, dia menolak dan ingin terus mengabdi kepada Kanjeng Nabi Saw. "Biarkan saya bersamamu ya Rasulullah mulai di dunia sampai di surga nanti," katanya. Rasulullah tidak bisa menolak permintaan pembantunya itu. Hanya saja dia memberi isyarat,"Kalau kamu ingin bersamaku di dunia sampai di jannah nanti, kamu harus banyak bersujud." Pernyataan beliau langsung diamini oleh Rabiah,"Sami'na wa atho'na." Ini bentuk kepatuhan yang saat ini sering diperdebatkan, kepatuhan yang ikhlas tanpa reserve.

Nampaknya berbagai kemungkinan bisa terjadi di muka bumi ini. Sebuah Hadist dari Rasululah SAW yang cukup panjang, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Hurairah r.a berkata: “Ketika turun ayat : Lilahi mafis samawaati wama fil’ ardli wa in tubdu ma fi anfusikum au tukhfuhu yuhaasibkum bihillah. (Bagi Allah kekuasaan langit dan bumi, apabila kamu keluarkan isi hatimu atau tetap kamu sembunyikan akan diperhitungkan oleh Allah). Terasa berat yang demikian itu pada sahabat-sahabat Nabi SAW sehingga mereka datang kepada Rasulullah dan jongkok sambil berkata : Ya Rasulullah kami dapat menerima kewajiban-kewajiban yang dapat kita kerjakan, yaitu sembahyang, jihad, puasa dan sedekah. Dan kini telah diturunkan ayat ini, kami merasakan tidak dapat melaksanakan dan tidak kuat menanggungnya. Rasulullah bersabda: “Apakah kamu akan berkata sebagaimana Ahli kitab-kitab yang sebelummu; Kami mendengar dan melanggar. Kamu harus berkata: Sami’na wa atho’na (Kami mendengar dan taat) Ghufranaka Rabbana wa ilaikal mashir (Ampunkan kami ya Tuhan kami dan kepadaMu bakal kembali) Dan ketika ajaran itu telah dibaca oleh para sahabat, sehingga ringan lidah mereka membacanya. Allah menurunkan ayat lanjutannya: Aamanar rasulu bima unzila ilahii min rabbihi wal mu’minuna kullun aamana bilahi wamalaikatihi wa kutubihi wa rasulihi la nufarriqu baina ahadin min rasulihi wa qaalu sami’na wa atha’na ghufranaka rabbana wa ilaikal mashir. (Sungguh telah percaya Rasulullah dengan apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, juga kaum mukminin masing-masing telah percaya kepada Allah dan MalaikatNya dan Kitab-KitabNya dan Nabi-nabi UtusanNya, tidak membeda-bedakan salah seorangpun dariutusan-utusan itu, dan berkata mereka: Kami mendengardan taat, ampunkanlah hai Tuhan kami dan kepadaMu akan kembali). Dan ketika telah dilaksanakan demikian itu Alah memansukhkan hukum ayat yang di atas dengan ayat yang terakhir yang berbunyi : La yukallifullahu nafsan illawus’aha laha ma kasabat wa alaiha maktasabat (Alah tidak memaksakan pada seseorang kecuali sekuat tenaganya, baginya keuntungan dari usahanya, sebagaimana diatas tanggungan resiko apa yang telah dikerjakannya. Rabbana la tu’akhidzna in nasina auakh-tho’na. Dijawab : ya” Robbana wala tahmil alaina ishran kama hamaltahu ‘alladziina min qoblina. Dijawab : “ya” Rabbana wala Tuhammilna mala thoqota lana bihi. Dijawab :”Ya” Wafu’anna Waghfir lana warhamna anta maulana fanshurna alal qaumil kafirin. Dijawab: “ Ya” (Ya Tuhan kami janganlah menuntut kami jika kami lupa atau keliru, Jawabnya: Ya, Ya Tuhan kami, jangan menanggungkan pada kami keberatan-keberatan sebagaimana yang Tuhan yang tanggungkan pada orang-orang yang sebelum kami, Jawab Ya. Ya Tuhan kami jangan menanggungkan pada kami yang diluar kekuatan kami. Jawabnya: Ya. Maafkanlah kami dan ampunilah kami, dan kasihanilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum kafir. Jawabnya: Ya). (HR Muslim dikutip dari Riadhus Shalihin)

Wallahu a'lam bi shawab

Selasa, 07 Desember 2010

Selamat Tahun Baru 1432 H

Tak Ada Yang Terlepas Dari Pengawasan-Nya
Posting by : A.Kuspriyanto


TIADA terasa waktu ini berlalu. Saat ini Kita berada di penghujung tahun 1431 H, sebentar lagi kita jelang detik-detik memasuki tahun baru 1432 H. Ini artinya sesaat lagi umur kita bertambah satu tahun dan kita tak akan mungkin bertemu lagi dengan tahun yang sama dan waktu yang sama. Persoalannya sebenarnya apa yang telah kita perbuat terhadap waktu tersebut.

Peristiwa demi peristiwa pun kita jalani, suka dan duka. Amal yang baik pernah kita kerjakan, demikian pula amal yang kurang baik pun pernah kita lakukan. Ibarat sinetron, ada kalanya kita mendapatkan peran yang baik; pada kesempatan yang lain , kita juga pernah kebagian peran yang antagonis. Begitulah Kita akan tetap bermain di panggung sandiwara kehidupan ini, sampai saatnya sudah tak diberikan peran lagi oleh Sang Sutradara. Akan tetapi apapun peran kita, tidak ada satu pun yang akan terlepas dari Pengawasan-Nya.

Dalam salah satu lirik lagunya Opick mengungkapkan perjalanan waktu yang telah berlalu yang tak mungkin lepas dari pengawasan-Nya “Yang Maha Melihat”:

Seiring waktu berlalu
Tangis tawa di nafasku
Hitam putih di hidupku
Jalan ditakdirku

Tiada satu tersembunyi
Tiada satu yang terlupa
Segala apa yang terjadi
Engkaulah saksinya

Kau yang Maha Mendengar
Kau Yang Maha Melihat
Kau Yang Maha Pemaaf
PadaMu hati bertobat

Kau yang Maha Pengasih
Kau Yang Maha Penyayang
Kau Yang Maha Pelindung
PadaMu semua bergantung

Yang dicintai kan pergi
Yang didamba kan hilang
Hidup kan terus berjalan
Meski penuh dengan tangisan

Andai bisa ku mengulang
waktu hilang dan terbuang
Andai bisa ku kembali
hapus semua pedih

Andai mungkin aku bisa
kembali ulang segalanya
Tapi hidup takkan bisa
Meski dengan air mata…

Maka, selama masih diberikan kesempatan untuk mengambil peran dalam hidup ini, masih terbuka lebar kesempatan untuk meraih apa saja yang menjadi cita-cita kita. Tapi, sayangnya kita hanya berkuajiban menyempurnakan ikhtiar, sedangkan Allah adalah Sang Penentu peran apa yang Dia kehendaki terhadap hamba-Nya.

Maka kita diperintahkan untuk senantiasa memperbanyak do’a, dalam setiap saat dan kesempatan. Mudah-mudahan Allah melimpahkan taufiq, hidayah dan inayah-Nya. Dalam surat Al Ashr (1-3) Allah SWT berfirman:“ Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Surat Al Ashr tadi secara keseluruhan berpesan agar seseorang tidak hanya mengandalkan iman saja, melainkan juga amal salehnya. Bahkan amal saleh dengan iman pun belum cukup, karena masih membutuhkan ilmu. Demikian pula amal saleh dan ilmu saja belumlah memadai, kalau tidak ada iman. Oleh karenanya, hendaknya kita tingkatkan ketiganya. Disamping itu, kita agar tabah dan sabar dalam menjalani hidup ini.

Wallahu a’lam bi shawab

Saya Mengucapkan:
Selamat Tahun Baru 1432 H,
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Taufiq dan Hidayah-Nya, diberikan tetap iman dan Islam, diberikan rizki yang halal dan berkah, diberikan umur panjang untuk taat beribadah, serta diberikan akhir kehidupan dengan husnul khotimah.


Magelang, 1 Muharram 1432 H

Minggu, 28 November 2010

Empat Perkara Yang Mulia

Mutiara Hikmah

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Arba’un man u’thiyahunna faqod u’thiya khairaddunyaa wal aakhirati : lisaanun dzaakirun, wa qalbun syaakirun, wabadanun ‘alal balaa-I shaabirun, wa zaujatun laa-tabghiihi khaufan fii nafsihaa walaa maalihi”

Yang artinya:”Ada empat perkara, barang siapa diberi keempat perkara itu, berarti ia benar-benar telah diberi kebaikan dunia dan akhirat, yaitu lisan yang selalu berdzikir (kepada Allah), kalbu yang selalu bersyukur (kepada-Nya), tubuh yang sabar dalam menghadapi cobaan, dan seorang istri yang mau dikawininya bukan lantaran takut celaka atau mengharapkan hartanya." (Riwayat Thabrani melalui Ibnu Abbas r.a)

Penjelasan :
Barang siapa yang dianugerahi lisan yang gemar berdzikir kepada Allah, hati yang selalu bersyukur (kepada-Nya), tubuh yang sabar dalam menanggung musibah, dan istri yang benar-benar setia kepadanya, bukan karena ia takut kepadanya dan bukan pula karena menginginkan hartanya, maka orang tersebut benar-benar telah memperoleh kebaikan dunia dan akhirat ( Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Syarah Mukhtaarul Ahaadits)

Kamis, 18 November 2010

Mengelola Daging Qurban

Sepenggal Pengalamanku Membagikan Daging Qurban Kepada Duafa
Posting by: A.Kuspriyanto

SEBENARNYA tidak ada yang istimewa untuk diceritakan kepada orang lain tentang pengalamanku ini. Karena rata-rata hampir setiap kampung atau tempat dimana sebagian besar komunitas Muslim berada, ketika yaumul nahr (hari raya Qurban) mereka melaksanakan ibadah qurban. Ada yang hanya sekedar menyaksikan penyembelihan hewan qurban, ada yang membantu menyiapkan peralatan, menyiapkan tempat atau bahkan terlibat secara aktif dalam kepanitiaan ibadah Qurban.

Dari sekian banyak pengalaman yang pernah kualami dengan teman-teman sebagai orang yang diberikan amanah untuk mengelola ibadah Qurban, nampaknya ada satu permasalahan yang sering menjadi agenda musyawarah setiap jelang musim qurban tiba dan bisa jadi “topic hangat” dari tahun ke tahun, yaitu bagaimana mendistribusikan langsung daging qurban kepada para Duafa yang hadir di lokasi pemotongan, agar mereka mendapatkan bagiannya secara merata dan tertib. Sementara jumlah daging qurban yang akan dibagikan jumlahnya sangat terbatas.

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah pembagian daging langsung kepada para duafa selalu tidak mencukupi, disamping itu juga relatif kurang tertib karena sering diwarnai mereka yang desak-desakan yang mengantri karena berupaya memperoleh jatah kupon yang sangat terbatas. Terpaksa setelah kupon habis, barulah mereka meninggalkan lokasi pemotongan hewan qurban. Itupun tidak serta merta memutus harapan tidak ada yang hadir lagi ke tempat pemotongan qurban, untuk meminta kupon dari Panitia guna ditukar dengan jatah sebungkus daging qurban yang jumlahnya tidak lebih dari 1 kg. Disinilah sebenarnya yang sering membuat ‘tidak sampai hati’ melihat bagaimana saudara-saudara kita para duafa yang demikian banyak terpaksa harus antri berdesak-desakan, apalagi ada yang tidak kebagian jatah daging qurban karena memang nggak ada lagi daging qurban yang bisa dibagikan.

Sebagai ilustrasi sederhana, di tempatku pada qurban tahun ini (yang dikelola Takmir Masjid untuk lingkup RW dengan populasi KK Muslim kurang lebih 160 KK) ada 6 ekor sapi dan 15 ekor kambing qurban. Dari jumlah tersebut kami jadikan 950 bagian untuk distribusikan kepada warga muslim , keluarganya dan panitia sejumlah 320 bagian sedangkan sisanya 630 bagian dibagikan kepada : duafa kurang lebih sejumlah 400 bagian (bungkus), 5 Pondok Pesantren dan warga masyarakat miskin di luar lingkungan sejumlah 220 bagian.
Yang khusus dari sepenggal pengalaman ini, sebenarnya bukan pada jumlah daging qurban yang dibagikan di atas, akan tetapi pada teknik pembagian daging qurban.

Sekitar dua tahun terakhir, panitia melakukan perubahan sistim pengelolaan daging qurban ternyata dapat berjalan lancar dan tertib, dengan beberapa tahapan sebagai berikut:

Pertama, melakukan pendataan jumlah orang yang akan kita berikan daging qurban;
Kedua, melakukan klasifikasi pembagian daging, misalnya ; warga , panitia, permintaan dari Pontren dan lingkungan, serta para duafa yang biasanya hadir meminta langsung di lokasi qorban.
Ketiga, melakukan pemontoan daging qurban (dibagi) sesuai klasifikasinya. Pada tahapan ini yang secara khusus berbeda dari tahun sebelumnya yakni melakukan pemontoan daging dalam dua tahap; pemontoan pertama, menyiapkan daging qurban untuk khusus para duafa, permintaan Pontren sekitar dan lingkungan . Kedua pemontoan daging khusus untuk warga. Dimana pada tahap pertama pemontoan daging bagi para duafa tadi didahulukan, misalnya sapi 4 dan kambing 10 dipotong dan dijadikan untuk 400 bagian. Setelah selesai baru dilakukan pemontoan kedua, sapi 2 dan kambing 5 dipotong-potong dijadikan 220 bagian. Ukuran seberapa banyak bagian yang harus diberikan kepada masing-masing orang berdasarkan klasifikasinya tersebut tergantung dengan stok daging yang ada. Jumlah masing-masing bisa sama atau bisa pula berbeda.

Khusus jatah para duafa, memang jumlahnya diperbanyak agar mencukupi, kendatipun ukuran jatah perorang sedikit lebih kecil dari jatah warga. Bagi para duafa yang hadir di tempat pemotongan qurban tersebut, yang penting diusahakan dapat diberikan jatah daging, kendatipun tidak sama ddengan jatah warga setempat.
Keempat, Setelah pemontoan daging qurban tahap I dan II telah selesai semuanya, barulah siap dibagikan kepada masing-masing orang berdasarkan klasifikasi di atas, termasuk kepada para duafa.

Dibutuhkan Penanganan Khusus
Pembagian daging qurban kepada para duafa yang biasanya hadir meminta langsung di lokasi qorban, agar tertibnya dilakukan penanganan khusus. Di tempatku ditangani kepanitiaan dibawah seksi duafa. Kerja seksi ini diawali dengan menyiapkan kupon untuk para duafa, kemudian membagikan kupon kepada para duafa, dengan ketentuan mereka menunjukkan KTP Asli, dan mengantri , masing-masing duafa diberikan 1 kupon. Pemberian kupon dilaksanakan sekitar pukul 9 pagi, sedangkan penukaran kupon dengan jatah daging qurban dilaksanakan setelah semua daging qurban siap didistribusikan. Selanjutnya tinggal seksi keamanan membantu mem-backup pelaksanaan pembagian hingga selesai. Sekarang beres, laris manis tanjung kimpul, siapa yang manis bisa ngumpul dong.!

Wallahu a’lam bi shawab.

Senin, 15 November 2010

Khutbah Idhul Adha 1431 H

Memaknai Sebuah Pengurbanan

Masjid Baiturrosyidin Rabu 17 Nopember 2010
Posting by : A.Kuspriyanto

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Allahu Akbar 9x Kabirau walhamdulillahi katsiirau wasubhanallahi bukratau wa-ashiilaa. Laa ilaahaillallah wallahu akbar , allahu akbaru walillahi hamdu
Alhamdulillahiladzii syara’alanaa bil udhhiyati washaalati ‘iidil ‘adhhaa wal hajji fii syahri dzilhijjah. Asyhadu allailaha illallah wahdahu laasyarikalahu, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhuladzi lanabiiyabakdah. Allahumma sholli wasallim ‘ala sayyidiina muhammadin wa ‘alaa aalihii wa-shahbiihi ajma’in, amma ba’du.
Fayaa ‘ibaadallah ittaqullaha haqqatuqaatihii walaa tamuutunna illa wa antum muslimun Qoola Ta’ala : innaa a’thaina kalkaustar fashalli lirobbika wanhar inna syaaniaka huwal abtar.

Hadirin sidang id rahimahumullah
Di pagi yang indah ini, ketika Sang Mentari memancarkan sinarnya dari upuk timur, gema takbir, tahlil dan tahmid pun terdengar di seluruh penjuru dunia. Hanya atas kudrat dan iradat-Nya, hidayah serta Taufiq-Nya untuk kesekian kalinya kita masih diberikan kesempatan memenikmati keagungan Idhul Adha. Oleh karena itu, tiada kata terindah yang bisa terucap selain puji syukur kepada Allah yang Maha Ghafur, yang menggenggam alam raya ini, Kepada-Nya pemilik segala sanjungan dan pujian.

Sholawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw, keluarganya, tabiit-tabiin serta para pengikutnya yang istiqomah mengikuti ajarannya.

Hadirin sidang id rahimahumullah
Mengawali khutbah ini ijinkanlah diri khotib berwasiat taqwa, mengingatkan kepada diri Khotib, juga kepada segenap hadirin rahimahumullah untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, dalam situasi apapun; baik dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan sendirian maupun disaksikan orang lain. Dengan berbekal taqwa, kita yakin Allah SWT akan memberikan kepada kita solusi dari setiap masalah yang kita hadapi dan menghantarkan kita meraih kebahagiaan yang hakiki fi dunya wal akhirat.

Allahu akbar 3x walillahi hamdu.
Hadirin sidang id rahimahumullah

Tiada terasa saat ini kita berada di bulan penghujung tahun qomariyah yaitu bulan Dzulhijjah atau menurut kalender Jawa bulan Besar. Dimana kita berkumpul disini memperingati satu diantara sekian hari-hari Allah. Hari dimana seorang Nabi Allah Ibrahim as, menorehkan sejarah pengorbanannya dengan tinta emas dalam sejarah manusia. Beliau seorang Nabi yang mendapat gelar khalilullah, adalah seorang nabi yang banyak menerima ujian dan tantangan sepanjang hidupnya, selalu diiringi dengan pengorbanan demi pengorbanan yang begitu beratnya. Berbagai ujian yang ia jalani, ternyata tidak menyurutkan dalam pengabdiannya kepada Allah. Kekayaan, urusan keluarganya, bahkan anak satu-satunya yang sangat ia sayangi ia korbankan dengan tabah dan tawakkal untuk melaksanakan perintah Allah SWT.

Sebuah riwayat, bagian dari prosesi penyembelihan Ismail as. Disebutkan ketika Nabi Ibrahim hendak pergi melaksanakan penyebelihan. Dia berkata kepada isrinya Hajar “Pakaikan anakmu Ismail, pakaian yang paling baik, karena aku akan mengajaknya pergi bertamu.” Maka, Hajar pun memakaikan pakaian yang bagus, memberi minyak wangi dan menyisir rambutnya,” Kemudian Ibrahim as. Dan Ismail pergi dengan membawa tali da pisau menuju ke kota dekat Mina. Maka pada hari itu Iblis terkutuk mengalami kesibukan yang luar biasa. Sejak mulai diciptakan tidak sesibuk hari itu. Maka dia pun berupaya dengan berbagai cara untuk menggagalkan niat Ibrahim as. yang akan melaksanakan perintah Allah SWT, tapi Iblis pun tak berhasil.

Gambaran keteguhan Beliau antara lain dapat kita simak dalam dialog keduanya pada jenak-jenak terakhir sebelum tiba kesepakatan besar. ”Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:”Hai anakku sesungguhnya akau melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar”. (QS: 37:102)
Betapa Ibrahim memanggil dengan penuh kasih sayang kepada anaknya:“Ya Bunayya, anakku tersayang?” Kemudian Ibrahim bertanya kepada anaknya dengan hati-hati; “Cobalah pertimbangkan bagaimanakah pendapatmu tentang itu?” Dapat dibayangkan bagaimana perasaan yang berkecamuk di relung hatinya. Putranya Ismail as. dengan kebesarannya jiwanyai menjawab ,”Wahai ayahku tersayang, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang orang yang sabar”

Ringkas cerita ketika Nabi Ibrahim dan Ismail As, telah pasrah bulat-bulat dan tawakkal kepada Allah SWT kemudian Allah SWT memberikan kabar gembira , menyuruh ibrahim menghentikan pengorbanan anaknya dengan dan Allah berkenan menggantinya dengan seekor domba yang besar dari surga. “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar . Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim” (QS Ash-Shaffat: 107-109)

Allahu akbar 3x walillahi hamdu.
Hadirin sidang id rahimahumullah

Menyaksikan peristiwa agung yang tiada bandingnya dalam sejarah umat manusia itu, malaikat jibril sangat kagum. Karenanya ia lantas memberi salam seraya berseru, Allahu Akbar 3x Nabi Ibrahim as menjawab, Laa ilaaha illallahu Wallahu Akbar, dan Ismail pun menyakut, Allahu Akbar wallillahi hamdu.

Hadirin sidang id rahimahumullah

Kita ketahui bersama, bahwa sebenarnya ibadah qurban bukan hanya sekedar ritual menyembelih ternak serta membagi-bagikan dagingnya, melainkan merupakan media mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT untuh meraih keridhaan-Nya. Sehingga pernah terjadi pada Sahabat Bilal bin Rabah, Abu Hurairah serta beberapa sahabat yang lain terpaksa hanya mampu berkurban ayam untuk ikut bersedekah qurban untuk menyatakan kepada Allah SWT (diriwayatkan dalam Subulus Salam). Demikian pula Ibnu Abbas ra pernah ketika datang hari qurban (yaumunnahr) memerintahkan kepada pelayannya agar membeli daging untuknya dengan 2 keping dirham, serta membagikannya kepada masyarakat dengan memberitahukan hal itu sebagai qurban ibnu abbas (Demikian dalam Fiqh Aktual, Dr. Setiawan Budi Utomo).

Dalam surat Al Hajj 37, Allah SWT berfirman:”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan darimulah yang dapat mencapainya.”

Menurut Imam Alm Ghazali dalam bukunya “Ayyuhal Walad”, ada empat hal yang harus dilakukan orang yang menempuh jalan taqarrub kepada Allah. Pertama, punya keyakinan yang benar dan jauh dari unsure bid’ah, Kedua, melakukan taubat nashuha, dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi kemaksiatan. Ketiga, minta keridhaan orang yang menjadi jmusuhnya (menyelesaikan haqqul adamiyah). Keempat, belajar ilmu agama, agar bisa menjalankan agama dengan benar.

Disamping hal tersebut, Islam menekankan kepada kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan ibadah kepada Allah (hablumminnallah) dan hubungan baik dengan sesama (hablumminnas).
Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam yang konsisten dengan agamanya, dan apabila memiliki kelonggaran rizki, tentunya tidak akan merasa keberatan melaksanakan perintah ibadah qurban tersebut, sebagai wujud melaksanakan perintah Allah SWT dalam surat Al Kautsar (Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah), serta melaksanakan himbauan Rasulullah yang disampaikan oleh Aisyah RA : “ Tak ada suatu amalan dari keturunan Adam pada hari Nahar yang lebih dicintai oleh Allah Azza wa Jalla daripada mengalirkan darah (menyembelih qurban); dan sesungguhnya akan datang pada hari qiamat dengan tanduknya, dengan kotorannya, dan dengan rambut-rambutnya; dan sesungguhnya darah yang mengalir itu akan sampai kepada Allah (diterima) sebelum darah tersebut jatuh ke tanah. Makasucikanlah dirimu dengan berqurban.” (HR At Tirmidzi dan Abu Daud).

Allahu akbar 3x walillahi hamdu.
Hadirin sidang id rahimahumullah

Tidak bisa dipungkiri bahwa pada hakikatnya hidup ini tak akan pernah lepas dari sebuah pengorbanan, sehingga dengan kata lain pengorbanan senantiasa hadir sebagai keniscayaan hidup. Hanya ada satu hal yang dapat memutus siklus pengorbanan manusia dalam perjalanan hidupnya adalah kematian. Bahkan dengan pengorbanan dapat mengantarkan setiap pribadi menuju kematangan pribadi dan kejayaan hidup.

Lihatlah bagaimana putera Adam, Habil, mempersembahkan hewan terbaik yang dimilikinya sebagai persembahan kepada Allah SWT untuk membuktikan ketaqwaannya
Tengoklah kisah Nabi Yusuf As, bagaimana beliau harus mengorbankan masa mudanya di dasar sumur yang gelap, lalu rela dijebloskan di penjara yang begitu melelahkan;
Kita tengok kisah Nabi Nuh, bagaimana beliau mengorbankan 950 tahun masa hidupnya untuk berdakwah dan akhirnya hanya mendapat dua belas pasang pengikut;
Kita lihat bagaimana nabi Musa dan Harun harus melewati jalan terjal dalam menyampaikan dakwahnya dan berhadapan dengan Penguasa dholim Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan.
Kita saksikan kisah Ashabul Kahfi, bagaimana para Pemuda di Zamannya yang dengan rela hati meninggalkan Kota, mengorbankan masa muda mereka hidup di dalam Gua untuk mempertahankan agama yang diyakininya.

Dan bagaimana junjungan kita Nabi Muhammad SAW , harus berkorban demi dakwahnya sepanjang 22 tahun, harus menghadapi kekejaman kaum kafir Quraiys, Beliau dicaci maki, difitnah, disakiti, dikucilkan bahkan diancam keselamatan jiwanya. Namun demikian tidak membuat perjuangan Beliau surut ke belakang. Dan Rasulullah SAW menghadapinya dengan ketegaran, kesabaran dan keluhuran akhlaq beliau. Pernah suatu saat ketika Beliau menghadapi ancaman, Rasulullah SAW mengatakan :” Aku bersumpah demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, kemudian memintaku untuk menghentikan misi ini, aku tidak akan berpaling dari misi tersebut hingga allah memberiku kemenangan atau aku binasa di sana.”. Begitulah akhirnya setelah melalui berbagai rintangan yang berat dan melelahkan, bahkan disertai pengorbanan yang penuh dengan darah dan air mata, akhirnya beliau mencapai kemenangan yang gemilang.

Allahu akbar 3x walillahi hamdu.
Hadirin sidang id rahimahumullah

Dalam benak kita mungkin terbersit sebuah pertanyaan , mengapa kita harus bersusah payah dalam hidup ini untuk selalu berkorban. Pengorbanan yang tidak jarang diwarnai berdarah-darah dan ratapan air mata.

Tapi hidup ini berjalan sesuai dengan Sunnatullah yang harus dilalui dengan segala dinamikanya, karena hidup adalah ujian semata dari allah SWT yang menuntut pertanggungjawaban,

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS 67: 2)

Allahu akbar 3x walillahi hamdu.
Hadirin sidang id rahimahumullah
Dengan ibadah qurban/ haji ini marilah kita tingkatkan kepedulian social dan semangat berqurban. Karena semangat dan pengorbanan itu pada hakikatnya tidak terbatas para hari raya saja, melainkan setiap saat setiap waktu dan kesempatan dibutuhkan pengorbanan . Dan nilai pengorbanan tentunya tergantung dari keikhlasan serta tingkat kesulitan apa yang diqurbanan. Sedangkan kesempurnaan apa yang kita kurbankan tentunya bersifat situasional, kontekstual dan kasuistik bergantung kepada kondisi, situasi, relevansi dan posisi seseorang dari amalan tersebut.

Allahu akbar 3x walillahi hamdu.
Mengakhiri khutbah ini, marilah kita beningkan hati kita dengan senantiasa mengingat Allah, penuhi jiwa kita dengan kasih, melalui hari ke depan dengan semanagat untuk selalu lebih baik, tetapkan langkah kita dengan syukur dan sucikan hati kita dengan saling memaaflkan.

Wa idzaa qurial qur’aanu fastami’uu lahuu wa-ansituu la’allakum turhamuun. A’udzubillahi minasysyaithanirrojim wajazaau sayyiatin sayyitum misluhaa faman ‘afaa wa aslahaa fa-ajruhuu ‘alallahi innahuu la yuhibbudhdhalalimiin. Waqurrrobbighfir warham wa anta khairurrohimiin.

Wallahu a'lam bi shawab

Magelang, 10 Dzulhijjah 1431 H